Api di Lembah Lembah Seribu Pusaka

 

api di lembah seribu pusaka novel patria riza

Udara di Lembah Seribu Pusaka tak pernah benar-benar sejuk bagi Reksa.  Bukan dinginnya embun pagi yang menyusup ke tulang, melainkan dinginnya kenyataan yang membeku di relung-relung ingatan.  Lembah ini, sejauh mata memandang, adalah kanvas hijau membentang yang diukir oleh sungai-sungai berliku dan dihiasi gugusan desa.

Desa Air Tenang, tempat para pedagang berbisik di tepi sungai, mengukir kekayaan dari setiap arus yang lewat.  Desa Batu Cadas, menjulang angkuh di kaki gunung, menggemakan suara palu dan ambisi yang menggelegar.  Dan di sanalah, jantung Lembah, Desa Harapan kami—tempat di mana Gema Kebesaran seharusnya bersemi, namun kini hanya menyisakan bisikan pilu.

Reksa telah melihat banyak generasi datang dan pergi.  Ia adalah penunggu yang tenang, seorang pelukis tak kasat mata yang mencatat setiap torehan sejarah, setiap putaran nasib.  Ia menyaksikan kejayaan dan keterpurukan, tawa yang meredup dan air mata yang mengering.  Terlalu sering, ia melihat harapan yang sama terbit, hanya untuk kembali meredup di tangan keserakahan dan perpecahan.

“Kursi,” Reksa membatin, pandangannya menyapu ke arah barat, jauh ke arah Majelis Lembah—bangunan kokoh yang kini tak lebih dari sarang arogansi.  Di sana, perwakilan desa-desa beradu lidah, memperebutkan setiap jengkal pengaruh, setiap tetes air, setiap butir panen.

Dahulu, Majelis itu adalah dewan bijak yang melayani Kerajaan Purbalaya, sebuah nama yang kini hanya terukir di prasasti kuno dan di hati para penjaga seperti Reksa.  Purbalaya, kerajaan yang menyatukan Lembah di bawah panji keseimbangan, kini tinggal kenangan.  Dan Desa Harapan, jantung Purbalaya itu sendiri, kini lumpuh.

Ada masa di mana Desa Harapan tak memiliki suara di Majelis.  Sebuah "titik kulminasi terendah," demikian Reksa mengingatnya.  Lima tahun tanpa perwakilan, lima tahun tanpa kehormatan yang layak.  Itu adalah luka menganga di dada desa, warisan pahit yang ditinggalkan oleh pemimpin-pemimpin sebelumnya.

Damar, sang pemimpin yang mendahului Ardan, telah merasakan kepedihan itu hingga ke sumsum.  Ia seorang yang bijak, namun gelombang keterpurukan itu terlalu besar untuknya.

Namun, di tengah keterpurukan itu, selalu ada benih baru.  Reksa mengamati Ardan.  Bukan keturunan bangsawan murni dari garis Purbalaya yang ia duga, namun pemuda ini memiliki gairah yang membakar di matanya—gairah seorang pengabdi, seorang yang sungguh-sungguh ingin "berkhidmat" untuk tanah dan rakyatnya.  Ardan tak berbicara tentang kursi di Majelis dengan ambisi buta, melainkan tentang bagaimana petani bisa tenang saat panen, bagaimana hasil bumi bisa sampai ke tangan pedagang, bagaimana ladang-ladang di Desa Harapan bisa kembali subur.

“Kita harus menjadi solusi,” Ardan pernah berkata padanya, matanya lurus dan penuh tekad.  Sebuah kata-kata sederhana, namun bagi Reksa, itu adalah gema dari ajaran para leluhur Purbalaya.  Ardan tidak ingin sekadar "bergerak"; ia ingin "bermanfaat." Ia ingin memastikan keberadaan desa ini, dan klan nya (sebagaimana orang-orang menyebut perkumpulan mereka), "bukan hanya sekadar lima tahunan, tapi selalu hadir terus di masyarakat, terutama di petani-petani yang membutuhkan advokasi dan butuh pembinaan secara berkelanjutan."

Reksa, dengan segala pengetahuannya tentang masa lalu dan rahasia yang ia jaga, tahu bahwa Ardan adalah benih harapan yang paling murni yang pernah ia saksikan dalam waktu yang lama.  Namun, ia juga tahu, Lembah Seribu Pusaka adalah tempat yang tak pernah mudah.  Kebesaran yang memudar itu menyimpan ancaman yang jauh lebih besar daripada sekadar kursi di Majelis.  Ancaman yang tersembunyi, perlahan bangkit dari sudut-sudut paling gelap di batas lembah.

Angin membawa bisikan dingin dari hutan purba yang tak terjamah di timur, membawa aroma aneh, bukan aroma lumut atau tanah basah, melainkan sesuatu yang busuk, menyerupai kematian.  Reksa mengerutkan kening.  Bayangan kuno itu...  apakah ia benar-benar akan bangkit lagi?


Novel lengkap bisa di dapatkan di marketplace


https://bukunesiastore.com/shop/buku-api-di-lembah-seribu-pusaka/


https://tk.tokopedia.com/ZSUpTxMmr/


https://shopee.co.id/Bukunesia-Novel-Api-Di-Lembah-Seribu-Pusaka-i.717921939.42225276959 


feel free untuk baca juga novel yang satu ini Hikayat Peradaba Sunda di Pintu Dunia Lama