Nyala Sunyi Para Pembaharu
Langit Purbalaya menjelang malam adalah percampuran antara jingga kelelahan dan kelabu kegelisahan. Angin mengendap pelan, menyelinap ke sela-sela jendela rumah tua bergaya kolonial yang nyaris ditelan waktu. Di ruang tamu yang remang, sebuah koper besi tua tergeletak seperti kuburan kenangan. Di hadapannya, seorang pemuda duduk diam—mata menyala, tetapi jiwanya seperti tengah menepi.
Rangga Dirga Praja. 21 tahun. Mahasiswa ilmu politik Universitas Madya Nagantara. Dikenal lantang saat berorasi, keras saat berdiskusi, dan dingin ketika bicara soal agama. Tapi malam itu, bukan api yang tergurat di wajahnya—melainkan retakan. Tangannya membuka perlahan koper milik Eyang Wiraatmaja, kakeknya—tokoh misterius yang nama nya hanya berbisik dalam sejarah keluarganya.
Di dalam, di balik tumpukan buku lusuh dan kain usang, sebuah buku tua bersampul kulit terbungkus rapi dengan kain putih, kulitnya mengelupas, sudut halamannya berlumut waktu, membawa aura mistis yang entah kenapa terasa dingin. Tulisan tangan di pojok kanan bawah halaman depan mengguncang nadinya:
"Risalah Kepada Para Pemuda – Salinan Pribadi, 1978."
Rangga membuka lembar pertama. Ia menyentuh tulisan tangan tua itu seperti menyentuh urat waktu, dan di sana, kalimat awalnya menyentaknya:
Wahai Pemuda… Sebuah fikrah hanya akan hidup bila ia dihidupi oleh jiwa yang yakin, ikhlas, semangat, dan siap beramal serta berkorban.
Ia ingin tertawa, sinis. Tapi kata-kata itu menancap lebih dalam dari yang ia perkirakan.
"Retorika lama..." bisiknya. "Tapi kenapa terasa... seperti bicara langsung padaku?"
Ia membaca ulang kalimat itu, berkali-kali, seperti seseorang yang berusaha menyalakan api di tengah hujan. Dan entah kenapa, setiap kali matanya sampai pada kata ‘berkorban’, sesuatu di dadanya bergerak pelan—seperti luka lama yang dibangunkan. Tangannya gemetar. Bukan karena takut—tetapi karena ada sesuatu dalam dirinya yang bergolak, seperti luka yang disentuh ulang, memaksa jantungnya berdegup kencang, menyesakkan dada.
Hujan turun perlahan, mengetuk atap rumah bagai dzikir alam, angin dingin yang lembut menyapa ujung hatinya, ia kini menyadari bahwa ia tak bisa lagi mengabaikan suara yang selama ini dikubur dalam keributan pikirannya sendiri.
Malam itu, untuk pertama kalinya, Rangga merasa hidupnya bukan miliknya sendiri. Ada sesuatu yang memanggil dari balik kabut masa lalu—sebuah pesan yang tak selesai ditulis, menunggu disambung oleh tangan-tangan muda yang berani. Dan di antara halaman-halaman tua yang bergetar oleh angin malam, seolah ada suara samar berbisik:
“Jika cahaya itu padam, maka tulislah ulang dengan nyalamu sendiri.”
Rangga menutup buku itu perlahan, bersamaan hembusan nafas dan desahan lirihnya. Di luar, langit kampus tampak diam, tapi di dadanya, badai kecil mulai tumbuh. Tanpa ia sadari dari selembar risalah tua itulah, sebuah gerakan akan lahir—bukan untuk mengguncang dunia, tapi untuk menghidupkan kembali jiwa-jiwa yang tertidur di dalamnya.
Pagi harinya di kantin kampus, aroma kopi hitam bercampur dengan asap rokok dan suara debat mahasiswa yang lebih sering mengulang jargon daripada menyentuh makna. Rangga duduk sendiri di ujung meja paling sepi di pojok ruangan, menatap layar ponsel. Satu kutipan dari catatan lusuh kakeknya masih membakar di benaknya:
Pemuda adalah pilar kebangkitan dan rahasia kekuatan. Jika iman mereka menyala, maka langit pun akan terbakar oleh cahaya langkahnya.
Tiba-tiba, Sundari Kencana menarik kursi di hadapannya. Gadis berkerudung rapi itu membawa wangi ketenangan. Tatapan matanya teduh, tapi tajam. Ia duduk tanpa basa-basi, seperti telah lama mengamati kegelisahan Rangga dari jauh.
"Kamu terlihat seperti orang yang baru saja melihat masa lalu," katanya.
"Atau... sedang melihat masa depan yang tak ingin aku akui," jawab Rangga lirih.
"Biasa. Itu nasib semua orang yang tersandung makna.", jawab Sundari sembari jarinya memilin ujung kerudung.
Mereka saling diam beberapa saat. Lalu Sundari menatap Rangga lebih dalam.
"Kamu sering bicara tentang revolusi," katanya pelan. "Tapi aku belum pernah dengar kamu bicara tentang jiwa. Kamu pikir dunia ini bisa berubah hanya dengan amarah?"
"Jiwa terlalu abstrak. Sementara penindasan itu konkret. Kamu mau lawan sistem ini dengan puisi?"
"Dan kamu mau melawannya dengan dendam?" Sundari membalas dengan lembut namun tajam, gadis cantik dengan senyum manis ini memang terkenal tegas dan kritis.
"Orang-orang yang kamu kritik hari ini, dulu juga pemuda sepertimu. Mereka membakar dunia dengan idealisme. Tapi tanpa ruh, semua itu hanyalah api yang membakar dirinya sendiri."
Rangga tak menjawab. Ia tahu ada kebenaran dalam kata-kata itu. "Lalu apa? Kita diam?" akhirnya ia menjawab, badan nya condong ke depan, lalu tiba-tiba menggebrak meja dan berkata lantang, “Tidak. Kita bergerak. Tapi bukan keluar. Kita bergerak ke dalam. Karena aku percaya semua perubahan besar lahir dari ruang yang paling sunyi, dari dasar yang paling dalam, dari kesadaran paling jujur."
Hujan mulai turun di luar jendela. Detaknya mengiringi keheningan mereka.
"Kalau suatu hari kamu pergi, bukan untuk lari… tapi untuk mencari," ucap Sundari, "aku akan menunggu. Karena aku tahu, kamu akan kembali sebagai Rangga yang mengerti—bukan sekadar marah, tapi paham untuk apa bertarung." Ia lalu berdiri, sambil berjalan pelan dan pergi, tetapi entah kenapa kepergiannya seperti diiringi desiran angin yang menyapa lembut jauh ke dalam relung hati.
Sore itu, Rangga kembali ke kamar. Dindingnya usang, dan poster Che Guevara di atas meja sudah robek di ujungnya. Di bawahnya, buku tua berisi catatan sang kakek tergeletak, terbuka dan penuh coretan.
"Apa maksud semua ini?" bisiknya.
"Kenapa seolah buku ini sedang bicara langsung kepadaku?"
"Dan kenapa... aku merasa ditampar oleh sesuatu yang tak terlihat?"
Tanpa disadari, di sudut ruang, dari celah samar yang nyaris tak terlihat, sebuah kamera kecil tersembunyi menyala. Di ujung Purbalaya, seorang lelaki tua berkacamata bundar menatap monitor dengan mata tajam. Di sampingnya, pemuda bertopi hitam berdiri diam.
"Dia mulai membaca naskah itu. Apa langkah selanjutnya?"
"Biarkan. Jangan ganggu. Biarkan dia menyusuri lukanya sendiri."
"Tapi... jika dia menuju Cakrabuana?"
"Jika dia sampai ke sana, waktu kita tak banyak lagi."
Malam berikutnya, Rangga bermimpi. Ia berdiri di antara dua barisan, satu membawa obor, wajah mereka tenang, mata mereka basah oleh keteguhan, dan satu lagi membawa bendera merah koyak, tertawa nyaring, melangkah tanpa arah.
Di langit, suara menggelegar:
“Wahai pemuda! Jangan biarkan dunia ini diisi oleh orang-orang yang kehilangan Tuhan dan memuja dirinya sendiri!”
Ia terbangun. Napasnya terengah. Keringat dingin membasahi tubuh. Di atas meja, satu paragraf bersinar di benaknya:
“Kau adalah penerus risalah ini, atau hanya penonton sejarah. Pilih jalanmu, dan sejarah akan menuliskan namamu—dengan tinta darah, atau tinta lupa.”
Dari sisi tempat tidurnya, Rangga menatap peta tua warisan kakeknya. Di salah satu sudutnya, tercetak tanda merah: kaki Gunung Cakrabuana. Dan samar-samar tertulis sebuah nama:
Ki Raksa Wirya – Penjaga Warisan Masa Lalu
Setelah Subuh, ia mengemasi barang. Tidak banyak. Hanya ransel, catatan, dan buku tua itu. Ia menonaktifkan dan meninggalkan ponselnya di atas meja lalu bergegas ke kampus, seperti biasa langsung menuju tempat istimewa nya di pojok kantin yang sepi, di mana ia biasa menyendiri.Ia memesan secangkir kopi hitam tanpa gula, menyeruputnya dengan nikmat tanpa sepatah kata pun, lalu menyelipkan secarik kertas di bawah cangkir kopi yang masih tersisa setengah itu, sengaja tidak ia habiskan.
“Aku tak tahu ke mana jalan ini. Tapi aku tahu aku harus berjalan. Jika aku kembali, pastikan kau masih di sini—dengan cahaya itu di matamu.”
Lalu dengan mantap ia pergi. Ia tahu pesan itu tidak akan salah alamat, seseorang yang sangat memahami kebiasaannya akan mengerti meski tanpa kata.
Pagi itu, saat matahari belum juga meninggi, saat kantin kampus belum bergeliat ramai, Sundari duduk sendiri di sudut di mana segelas kopi masih tersisa setengah. Ia membaca pesan Rangga dengan mata yang basah dan bibir mengatup.
Di luar, langit Purbalaya masih kelabu.
"Carilah sampai kamu menemukan jalanmu, Rangga," bisiknya dalam hati. "Karena kita belum selesai."
KAKI GUNUNG CAKRABUANA
Sehari setelah percakapan dengan Sundari di kantin kampus, terlihat kabut tipis turun perlahan saat bis tua berhenti di terminal kecil desa Sagara Asih—desa yang menggantung sunyi di pelukan Gunung Cakrabuana. Langit pagi mendung, dan bau tanah basah bercampur aroma pinus menciptakan nuansa seolah waktu sendiri pun sedang menahan napas. Rangga turun dari bis dengan ransel usang di punggung dan buku tua itu di dadanya.
Ia berjalan mengikuti petunjuk dari peta tua yang ditinggalkan kakeknya. Jalanan berbatu, rumah-rumah panggung yang sepi, suara angin yang membawa bisikan dedaunan—semuanya seperti menyambut langkah yang masih ragu. Dingin menusuk, tapi kegelisahan di dalam jauh lebih tajam.
Setelah hampir dua jam menapaki jalan setapak berbatu, ia tiba di sebuah saung tua yang dikelilingi pohon jambu dan pagar kayu sederhana. Papan kecil tergantung di depannya:
Pengajian – Raksa Wirya
Di teras depan, seorang lelaki tua sedang menjemur daun kopi. Sikapnya sederhana, sorot matanya tenang namun dalam, seolah mengenal setiap luka yang belum disebutkan.
"Akhirnya kau datang, Rangga Dirga Praja."
Rangga terpaku. Ia belum sempat bicara, tapi dunia seperti sudah menjawab.
“Tatapanmu, sama seperti tatapan ayahmu dulu. Penuh api, tapi kehilangan pusat cahaya." Ki Raksa tersenyum samar sambil mangajak masuk ke dalam. Saung itu sederhana—lantai kayu, rak kitab tua, dan aroma kayu bakar yang menenangkan. Ia lalu menyuguhkan teh tawar hangat dan singkong rebus. Obrolan pertama mereka bukan tentang ideologi, tapi tentang lapar dan perjalanan. Baru setelah matahari mulai tenggelam, pembicaraan mereka menukik dalam.
"Kamu datang bukan hanya membawa buku catatan tua. Tapi membawa luka yang diwariskan sejarah. Dan luka itu, tidak bisa sembuh dengan kemarahan." Ki Reksa berbicara dengan nada tenang dan damai.
"Tapi kenapa aku merasa buku ini, catatan ini begitu hidup… ia memanggilku?"
"Karena ruh perjuangan itu sedang mencarimu. Dan kamu sedang berdiri di gerbangnya."
Rangga diam, sembari mengerutkan dahi.
“Ruh perjuangan. Ruh dakwah. Ia hidup dalam setiap dada yang gelisah akan keadaan umat, dan resah karena kehilangan Tuhan. Dan kamu, sedang berada di tepi jurang itu.”
Suasana kembali hening, seolah memberi ruang luas bagi para jangkrik untuk bernyanyi. Malam turun dengan cepat. Suara jangkrik dan angin lembut membuat saung terasa seperti dunia terpisah.
Seusai Shalat Isya berjamaah, Ki Raksa dan Rangga duduk bersila menghadap jendela yang terbuka.
“Kamu tahu, siapa orang pertama yang menyalin risalah itu di negeri ini?”
Rangga menggeleng.
"Kakekmu, Wiraatmaja, adalah salah satu penyalin risalah pertama di masa represi. Ia tahu risikonya, tapi tetap menyalin. Ia ditangkap, disiksa, dan menghilang dari sejarah resmi. Tapi sebelum itu, ia titipkan satu salinan ke seseorang yang ia percaya."
"Ayahku?", Rangga bertanya dengan nada tak yakin dan raut wajah penuh tanda tanya.
Ki Raksa mengangguk: “Ayahmu, Dharma Praja, adalah pemuda paling berani yang pernah aku kenal. Tapi sayangnya, ia memilih jalan yang lebih cepat—perlawanan tanpa sabar, keberanian tanpa perhitungan. Ia membelot mengikuti kelompok radikal bawah tanah. Ia ingin hasil… bukan proses. Itulah yang menghancurkannya.” Diam. Hanya suara kayu yang berderak di bawah tubuh mereka. Lalu dengan suara lirih Ki Raksa melanjutkan, “Dan sekarang… kamu. Pewaris luka itu. Pewaris dua jalan yang belum selesai. Dan aku tak ingin kamu mengulang kesalahan mereka, kamu berdiri di antara dua jalan: idealisme tanpa ruh, atau ruh yang kamu hidupkan dengan kesabaran."
“Kenapa selalu agama? Kenapa tidak cukup jadi manusia baik dan jujur? Kenapa harus pakai nama Tuhan untuk menyelamatkan dunia?”
“Karena kebaikan tanpa Tuhan bisa diputarbalik. Bisa dibeli. Bisa dimanipulasi dan dipakai untuk membungkus kejahatan.”
“Lalu bagaimana aku tahu bahwa perjuanganku bukan ego?”
Sambil meletakkan gelas nya Ki Reksa melanjutkan penjelsannya, “Kalau kamu mau dihina tapi tetap berjalan. Kalau kamu tak dipuji tapi tetap berbuat. Kalau kamu gagal berkali-kali tapi tak lelah menanam. Maka kau sedang berjalan di jalan-Nya.”
“Aku takut, Ki. Takut salah. Takut menyesal. Takut… gagal.”
Ki Raksa tersenyum hangat lalu memegang pundak Rangga sembari menenangkan “Takut adalah teman para pemula. Tapi jangan jadikan dia tuan. Cukup ajak ia berjalan, jalan dakwah ini bukan jalan kemudahan. Tapi ia satu-satunya jalan yang menyelamatkan ruh dari kematian.”
Malam menjelang tengah. Rangga berdiri di luar saung, menatap langit gelap dan gunung yang menjulang hitam. Angin dingin menyentuh lehernya, tapi di dalam dadanya ada yang mulai hangat. Bukan karena api, tapi karena sesuatu yang mulai hidup: harapan.
Ia menatap langit dan bergumam: “Jika aku mewarisi luka, maka aku ingin menjadi obatnya…”
Rangga kini mulai menapaki jalan baru. Bukan jalan yang mudah, bukan pula cepat. Tapi ia telah memilih. Dalam catatannya malam itu, ia menulis:
“Aku tak tahu apa yang akan kulawan di masa depan. Tapi aku tahu, aku harus melawan diriku dulu.”
Pagi berikutnya, saat kabut belum sepenuhnya mengangkat dari lembah. Matahari masih malu-malu mengintip dari balik lereng Cakrabuana. Embun menetes dari ujung daun, memantulkan cahaya pagi yang lembut. Di kejauhan, suara ayam hutan menyatu dengan desir angin. Semesta seolah mengatur napasnya dalam ritme zikir. Di beranda saung, Rangga duduk bersila. Matanya menatap jauh ke hutan, namun pikirannya menatap ke dalam. Ki Raksa datang membawa secarik kertas kusam dan satu buku kecil bersampul hitam. Ia meletakkannya di depan Rangga tanpa suara, seolah tahu bahwa pagi itu lebih banyak membutuhkan hening daripada nasihat.
“Ini bukan peta dunia, tapi peta jalan dakwah.”
Rangga menatap tulisan tangan yang tergurat rapi:
Individu → Keluarga → Masyarakat → Negara → Dunia
(dengan landasan: Iman → Ikhlas → Semangat → Amal → Pengorbanan)
Ia membaca ulang berulang kali, seperti sedang mencoba menghafal sesuatu yang terasa akrab namun asing.
“Perubahan bukan dimulai dari podium atau jalanan. Tapi dari hati yang hidup. Satu hati. Kalau satu hati bangkit, satu rumah akan terjaga. Satu rumah akan menjaga satu lingkungan. Dan dari sana dunia bisa berubah.”
Rangga tak langsung menanggapi. Ia menutup mata, menarik napas Panjang dan menghembuskannya perlahan. Cahaya pagi menyentuh wajahnya seperti belaian lembut dari langit. Ada sesuatu yang tumbuh dalam dirinya—bukan ledakan, bukan euforia. Tapi cahaya kecil yang tenang… dan nyata. Setelah beberapa lama, ia membuka mata, teduh Sorotnya tidak lagi seperti semalam.
“Aku tak datang ke sini untuk jadi pengamat. Aku datang untuk belajar berjalan. Dan jika nanti aku jatuh, biarlah itu karena aku sedang mencari arah… bukan karena aku menyerah.”
Ki Raksa menatapnya, lalu mengangguk pelan sambil berkata lembut “Maka kamu telah mengambil langkah pertamamu.”
Beberapa hari telah berlalu, Rangga memutuskan untuk pulang. Sebelum Rangga melangkah pergi meninggalkan saung, Ki Raksa menyusulnya sampai ke batu besar di depan pagar kayu. Embun pagi masih menggantung di ujung rumput. Burung-burung kecil mulai bernyanyi, seolah mengiringi keberangkatan sunyi itu. Ki Raksa menyerahkan satu buku catatan kulit tua—milik Wiraatmaja. Rangga menerimanya dengan dua tangan. “Ini adalah bagian dari risalah lama, belum sempurna. Tapi perjalananmu akan menulis bagian baru. Kamu tak hanya mewarisi cerita, tapi juga ujian yang menyertainya.”
Rangga memandang wajah tua itu—terang dan tenang, namun menua karena beban zaman, mungkin tak bersinar tapi pasti tahu banyak jalan, seperti sepatu tua yang tak lagi bersinar tapi tahu banyak jalan. Ki Raksa duduk di batu, lalu menunjuk kertas yang berisi “peta jalan dakwah”. “Ingat baik-baik. Jalan ini bukan jalan para penikmat. Ini jalan para pemanggul beban. Mulainya dari dirimu sendiri. Kau akan diuji—dari dalam dan luar. Kadang oleh kebencian, tapi lebih sering oleh kesepian.”
“Apakah saya akan kuat?”
Ki Raksa tersenyum, namun matanya dalam, “Bukan soal kuat atau lemah. Tapi soal setia atau lari.” Ia terdiam, Lalu menatap langit sejenak sebelum melanjutkan,
“Zaman ini pernah ditaklukkan oleh para pemuda. Bukan yang paling pandai, tapi yang paling teguh. Lihatlah Muhammad Al-Fatih—di usia 21 tahun, menaklukkan Konstantinopel karena ia menaklukkan nafsunya lebih dulu. Atau Imam Syafi’i, yang dalam usia belasan tahun telah hafal ribuan hadits dan menyusun logika hukum. Atau para pemuda di masa Rasulullah—Mus’ab bin Umair, Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam—mereka menyerahkan dunia demi cahaya yang tak bisa dibeli.”
“Dan di sini, di negeri ini, dulu ada pemuda-pemuda seperti itu juga. Tapi banyak yang mati sebelum sempat mewariskan perjuangannya. Sekarang tugasmu bukan melanjutkan kebesaran, tapi menyelamatkan nyala kecil itu agar tak padam.”
Rangga mengangguk pelan, matanya berkaca-kaca. Di dadanya, ada sesuatu yang mulai memadat—bukan semangat sementara, tapi tekad yang tumbuh dari kesadaran.
“Kalau nanti kau merasa jalan ini sepi, ingatlah para penakluk zaman juga pernah merasa sendiri. Tapi mereka tetap berjalan, karena yang mereka kejar bukan dunia, tapi rida Tuhan.”
Rangga menjawab dengan suara mantap, “Kalau aku jatuh, biarlah itu karena aku sedang berdiri di jalan yang benar. Dan jika aku tak pulang, biarlah namaku tetap hidup sebagai bagian dari nyala itu.”
“Jika aku hanya hidup sekali, maka biarlah hidup itu kutaruh di antara barisan orang-orang yang menyalakan zaman. Meski kecil, aku akan jadi nyala.”
Ki Raksa tersenyum, ia tak lagi memberi nasihat. Karena cahaya itu kini sudah hidup di mata Rangga. Dan Rangga pun menuruni lereng. Di dadanya, bukan hanya lembar-lembar naskah. Tapi cahaya kecil yang perlahan tumbuh menjadi api. Ia menatap ke kejauhan. Ia tahu, gunung itu tidak bicara. Tapi diamnya menjawab segalanya. Sambil melangkah pelan, ia berbisik:
“Aku tak akan menulis ulang masa lalu. Tapi aku akan menulis bab berikutnya—dengan nyawa, jika perlu.”
Kabut tipis menyibak, perlahan merayap. Dan Purbalaya menunggu—bukan untuk disalahkan, tapi untuk dihidupkan.
DI BAWAH PANJI YANG TERSEMBUNYI
Langit Purbalaya mulai meredup, menyisakan semburat jingga yang mengalir di antara bayang-bayang gedung tua, seperti puisi senja yang tak selesai dibaca. Gerimis jatuh malu-malu, membasahi aspal dan kaca-kaca toko yang mulai menutup tirai. Di antara lorong sempit yang tak dikenal banyak orang, tersembunyi sebuah kafe kecil bernama "Ruah." Kafe itu sunyi, tapi tidak sepi.
Sundari Kencana duduk di sudut ruangan, dekat jendela, selalu seperti biasanya. Ia mengenakan mantel abu-abu tua dan kerudung krem yang menutupi rambutnya dengan anggun. Wajahnya bersih, tapi matanya seperti menyimpan badai yang tak terlihat. Dua cangkir teh di hadapannya masih mengepul pelan, seolah ikut menunggu seseorang. Ia menatap kosong ke arah jendela, tapi pikirannya tak tenang. Ia tahu, pertemuan kali ini bukan percakapan biasa.
Beberapa menit kemudian, Ketika pintu terbuka, dan suara bel kecil berdenting, Rangga muncul. Jaket lusuhnya basah oleh gerimis. Ia menyeka wajahnya, tersenyum sebentar pada Sundari, lalu duduk perlahan. Sundari membuka pembicaraan langsung tanpa basa basi, "Kau bilang kau menemukan arah. Tapi bagaimana kau tahu itu bukan cuma ilusi idealisme seperti yang lain?"
Rangga tak langsung menjawab. Ia membuka tasnya, mengeluarkan salinan risalah, dan meletakkannya di meja. Sorot matanya tak meledak seperti dulu—kini tenang, dalam, dan pasti. Ia kemudian berkata dengan lembut, "Karena kali ini aku tak datang dari amarah. Aku datang dari luka yang kubiarkan menyembuhkan, bukan membakar. Salinan Risalah ini bukan nostalgia. Ia cermin. Dan aku sudah melihat diriku di dalamnya—buruk, keras, kosong. Tapi juga… bisa diperbaiki."
Sundari menunduk, membaca beberapa baris catatan itu. Diam. Kemudian berkomentar, "Semua orang bicara tentang perubahan. Apa yang membuatmu yakin kita tidak sedang mengulang suara-suara lama yang akhirnya tenggelam?"
Dengan nada yang tenang Rangga menajwab, “Karena kita tidak memulai dari massa, tapi dari ruh. Kita tidak mengejar jumlah, tapi kedalaman. Kita tak ingin membangun panggung—kita ingin membentuk pondasi."
Hening sejenak. Di luar, hujan turun lebih deras. Di dalam, hanya detak jam dinding dan suara napas mereka yang terdengar, mungkin juga detak jantung yang berdegup pelan.
Sundari lalu berkata lirih, seolah menahan perasaanya, “Dan jika ini gagal?"
Sambil meletakkan gelasnya Rangga menjawab dengan penuh keyakinan, “Maka kita gagal karena memilih sesuatu yang benar. Dan itu lebih baik dari pada berhasil dengan kebohongan."
Senyum kecil muncul di bibir Sundari. Senyum seseorang yang tahu, meski jalannya berat, ia tak sendiri.
Lalu "Siapa yang akan kita ajak?"
Rangga menjelaskan dengan rinci, "Bukan yang paling keras bicara. bukan yang paling cerdas, bukan yang paling terkenal, tapi yang paling tulus dalam keresahannya, dan paling bersih dalam niatnya.”
Mereka sepakat, satu pekan dari hari ini, mereka akan kembali bertemu, membawa beberapa orang yang benar-benar mereka percayai
Rangga kemudian mempertegas maksudnya, “Gerakan ini bukan nama. Tapi ruh. Bukan sekadar ide. Tapi tekad yang bersambung.”
Sundari sepakat dengan itu, “Maka biarlah ini dimulai dari sunyi. Karena segala yang abadi, lahir dari keheningan yang jujur.”
Malam itu, dua orang pemuda pulang dalam diam yang mengandung ledakan besar. Sebuah panji telah mulai dikibarkan—belum terlihat, tapi telah tertanam kuat di dada mereka berdua.
Sepekan kemudian, malam di Purbalaya sejuk dan tenang. Ruang belakang kafe Ruah diterangi cahaya lampu temaram. Enam kursi membentuk setengah lingkaran, mengelilingi meja kayu kecil yang penuh dengan buku, kertas catatan, dan sisa teh dingin. Di sisi kanan duduk Rangga dan Sundari. Di sisi lain, satu per satu sosok hadir.
Tirta Mahendra—berkacamata tipis, diam dan penuh catatan. Pemikir reflektif yang jarang bicara, tapi sekali bicara, menghunjam tajam.
Rumaisha Iskandari—berkerudung biru muda, suaranya lembut, pembawaannya kalem, khas gaya introvert, Aktivis literasi yang lebih banyak menulis daripada berdebat.
Satrio Dipa—mantan ketua BEM yang pernah dielu-elukan, kini tampak lebih lelah tapi tetap kritis. Pandangannya masih menyala, meski lebih hati-hati.
Rayyan Maheswara—datang terakhir. Langkahnya lantang, senyumnya lebar, suaranya mendominasi. Ia menyapa semua orang seperti pemimpin yang sedang menunggu pengikut.
Lingkaran kini lengkap.
Setelah salam dan basa-basi ringan, semua menoleh ke Rangga. Ia membuka catatan kulit tua milik kakeknya, lalu meletakkannya di tengah meja dan mulai berbicara,
“Kita semua datang ke sini karena satu hal, keresahan.
Tapi keresahan saja tidak cukup, kita butuh arah.Gerakan ini bukan sekadar tumpahan emosi. Bukan pelarian. Ini adalah jalan panjang. Jalan yang sunyi, jalan yang berat, jalan yang penuh onak dan duri, aral menghadang dan kedzoliman akan kita temui”
Ia berhenti sejenak. Menatap satu per satu wajah di depannya.
“Catatan yang tertulis dalam buku ini mengajarkan bahwa kemenangan bukan diukur dari banyaknya pendukung. Tapi dari kuatnya iman, eratnya persaudaraan, dan ketulusan dalam beramal. Dan semua itu, dibayar dengan kesabaran.”
Lalu Rangga menggambar garis di papan tulis kecil.
“Ini jalurnya:
1. Individu → kita bina diri kita.
2. Keluarga → kita kuatkan rumah, ikatan yang paling rapuh tapi penting.
3. Masyarakat → kita sentuh lewat amal-amal nyata.
4. Negara → bukan dengan kekuasaan, tapi dengan pencerahan.
5. Dunia → bukan tujuan, tapi akibat alami dari kesatuan umat.”
Aku jelaskan secara singkat, skema nya, perhatikan ini,
Individu, artinya kita memperbaiki diri sendiri, sehingga menjadi orang yang kuat fisiknya, kokoh akhlaknya, luas wawasannya, mampu mencari penghidupan, selamat akidahnya, benar ibadahnya, bersungguh-sungguh terhadap diriya sendiri, penuh perhatian terhadap waktuya, rapi urusannya dan bermanfaat bagi orang lain, ini semua adalah kewajiban kita sebagai pribadi masing-masing.
Keluarga, kelak pada waktunya semua kita akan membentuk keluarga, kewajiban kita adalah mengkondisikan keluarga agar menghargai dan menghormati jalan juang yang kita pilih, memelihara etika islam dalam setiap aktivitas kehidupan rumah tangganya, memilih pasangan yang tepat dan memposisikannya sesuai hak dan kewajibannya, mendidik anak dan membimbingnya dengan dasar-dasar Islam, inipun kewajiban pribadi kita.
Masyarakat, maksudnya kita membimbing Masyarakat yaitu dengan menyebarkan seruan kebaikan ditengah-tengahnya, memerangi berbagai prilaku rendah dan munkar, mendukung berbagai prilaku mulia, melakukan amar ma’ruf, berinisiatif melakukan kebajikan, mengaet opini umum untuk mendukung dakwah Islam dan mewarnai segala aspek kehidupan umum secara terus menerus dengannya.
Negara, sebagai warga negara yang baik, yang mencintai tanah air nya, kita menginginkan negara yang hadir melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darahnya dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, inti nya kita berkewajiban memperbaiki pemerintahan, dengan jalan damai dalam koridor konstitusi yang berlaku.
Dunia, kita ingin menjadi bagian dari kontributor peradaban dunia, menjadi bagian dari masyarakat dunia yang setara, hidup damai saling menghargai.
Setiap tahapan ini harus dilalui. Tidak bisa dilompati. Kemenangan bukan diukur dari sorakan, tapi dari ruh yang hidup di dada. Tiap tahap punya waktu. Tidak instan. Jalan ini berliku, banyak duri, sedikit yang mendukung, dan banyak yang mencemooh. Tapi inilah jalan para pembaharu. Para nabi. Para penegak kebenaran, pengibar panji panji keadilan.
Rayyan mengangkat tangannya, “Tapi Rangga, masyarakat kita sudah rusak parah. Apa kita punya waktu untuk ini semua? Kenapa tidak langsung saja bentuk aliansi, bikin gerakan besar, hadapi sistem sekarang?”
Tirta menyahut, “Dan setelah itu? "Kau akan tawarkan apa? Slogan? Program? Pada manusia yang bahkan tak kenal dirinya?"
Rumaisha meski pelan tapi diksi nya jelas, “Bangunan besar yang indah tapi berdiri di atas pasir akan runtuh bahkan sebelum badai datang, begitulah gerakan yang dibangun tanpa pondasi ruhani, akan runtuh oleh hembusan pertama badai."
Rayyan mengernyit, menarik napas, duduk bersandar. Pandangannya tidak menyukai penolakan, tapi ia menyimpan komentarnya.
Lalu Rangga tersenyum tenang. “Kita tidak sedang membuat kerumunan. Kita sedang membentuk manusia. Dan itu harus dimulai dari satu demi satu yang kita bangun adalah ruh. Bukan simbol, kita harus bersabar dalam menata langkah, semua butuh proses”
Sundari melanjutkann penjelasan Rangga, “Kalau kalian sepakat, kita akan mulai dari kita sendiri. Kita akan bertemu seminggu sekali. mengkaji risalah, diskusi, Salat bersama, melakukan Amal kebaikan kecil yang konsisten kita jalani, dan kita akan saling menjaga, saling mengingatkan, setiap kita adalah penolong bagi yang lain.”
“Tak ada logo? Tak ada nama?” Satrio yang penasaran bertanya yang langsung di jawab Rangga
“Belum. Mungkin tak perlu saat ini, suatu hari nanti iya, kita masih tahap membangun pondasi dulu. Nama bukan yang menyatukan kita. Kita akan disatukan oleh ikatan yang lebih kuat dari ikatan darah, yaitu hati dan ruhani yang bertemu dalam cinta kepada Kebenaran, ruh yang menyala oleh iman, dan spirit seperti itu tak butuh logo”
Rayyan bekata setengah mengejek, “Gerakan tanpa nama. Menarik. Tapi kalau nanti gagal?”
Sundari cepat merespon dengan tajam dan tegas, “Kita gagal karena berusaha terlalu tulus adalah jauh lebih mulia daripada sukses yang lahir dari tipu daya, toh pada akhirnya kita akan menghadap Allah sendiri, dengan membawa amal kita masing-masing”
Sunyi. Lalu anggukan satu per satu. Rayyan berkata pelan seolah bergumam pada diri sendiri, "Gerakan tanpa nama. Tanpa panggung. Unik. Tapi berapa lama bisa bertahan?"
Dan Sundari dengan nada mantap, sambil menekan ujung jari nya ke atas meja, “Cukup lama, selama ia jujur. Dan cukup kuat, selama ia tidak mengkhianati niat."
Suasana kembali sunyi, tapi bukan sunyi kosong, sunyi yang mengandung tekad, sunyi yang menyalakan bara di dada.
Malam itu, Lingkaran Pertama terbentuk, bukan oleh deklarasi, bukan oleh gegap gempita, tapi dalam sunyi yang di lahirkan oleh kesediaan hati untuk melangkah.
Di dalam ruang kecil itu, tanpa mereka sadari, panji telah dikibarkan. Sunyi. Tapi nyata, merayap dalam diam.
Di luar kafe, lampu jalan berpendar samar. Angin berhembus, membawa selembar kertas dari celah pintu yang terbuka. Di sisi gelap parkiran, seorang lelaki memencet ponsel. Tak terdengar suara, hanya satu pesan terkirim:
"Lingkaran sudah terbentuk. Aku di dalam. Kita tunggu waktu yang tepat."
Tak ada nama. Tak ada wajah. Hanya jejak samar di malam yang basah dan dingin.
UJIAN PERTAMA
Langit Purbalaya berhari-hari terasa berat, menggantung seperti rahang yang menahan sesuatu. Namun di bawah langit itu—di kamar, kantin malam, lorong perpustakaan, teras masjid—sesuatu lain menyala. Bukan api besar, hanya bara-bara kecil yang tak terlihat radar penguasa kampus. Dan bara-bara kecil itu mulai bergerak. Di bawah pohon sawo Fakultas Sastra, Sundari menemui Dewi Laksmi—aktivis perempuan yang mulai penat dengan feminisme yang kehilangan arah spiritual. Dewi mengusap dagunya gelisah. “Dar… kamu masih bicara risalah itu? Di dunia kayak begini?”
Sundari menatapnya dengan mata yang lembut, namun ada sesuatu yang berdenyut halus di belakang tatapannya, “Justru karena dunia seperti ini, risalah itu tak boleh padam. Perempuan hari ini dibentuk untuk cantik, tapi tak diajari untuk kuat. Risalah ini mengembalikan jiwanya.” Sesaat, kata "kuat" seperti menggema di kepala Dewi, ada getaran aneh ketika ia melihat cara Sundari menyebutnya. Seolah ia sedang mengingat wajah seseorang—sekilas, lalu hilang.
Rumaisha di komunitas baca menyelipkan catatan kecil dalam buku yang ia pinjamkan: “Jika kamu merasa kosong, mungkin bukan kamu yang salah, tapi dunia yang melarangmu mengingat Tuhan.”
Buku itu bergulir dari tangan ke tangan, seperti pesan rahasia.
Tirta mengajak tiga mahasiswa skeptis di perpustakaan bawah tanah.
Salah seorang diantara mereka bertanya, “Kalau agama benar, kenapa dunia seburuk ini?”
Tirta mengangkat alis—tidak menjawab, hanya balik bertanya:
“Kalau lampu padam, apakah berarti listriknya salah? Atau rumahmu yang tidak merawat aliran itu?”
Mereka diam. Tongkat cahaya kecil menyalakan ruang gelap.
Di pelataran musholla teknik, Rayyan—lantang, gagah—berbicara seperti petarung. “Bangsa ini tak butuh orasi manis! Butuh pemuda berani!”
Para mahasiswa terpesona. Tetapi di antara sorot matanya, ada kilat pendek. Sebuah ambisi kecil. Seolah ini bukan hanya perjuangan—tapi panggung.
Malam itu, dua belas pemuda duduk melingkar di ruang belakang koperasi kampus. Wajah mereka campuran gelisah dan ingin percaya.
Rangga berbicara pelan. Tidak mengacungkan tangan, tidak meninggikan suara.
“Hari ini, kebenaran adalah komoditas, kebohongan jadi panggung. Kita dicemooh karena lurus. Tapi ketahuilah, ini bukan kata-kataku. Ini warisan dari para pendahulu.”
Ia membaca empat syarat perjuangan: iman, ikhlas, semangat, amal. Kalimat itu tidak panjang, tapi seperti merapikan tulang punggung yang bengkok.
Dan malam itu—mata mereka berubah.
Hari-hari berikutnya, atmosfer kampus berubah tanpa suara.
Di papan pengumuman:
“Berbuat baik adalah perlawanan.”
Di meja kantin, bisikan memetakan rasa takut.
“Gerakan sunyi… beneran?”
Di perpustakaan, buku-buku perjuangan spiritual hilang dari rak. Staf perpustakaan tampak gelap wajahnya, galau itu tak bisa di sembunyikan di balik kacamata hitam bulat model klasiknya itu : “Sejak kapan buku-buku ini dicari?”
Beberapa mahasiswa mulai menolak titipan absen.
Beberapa mengembalikan sisa uang kas.
Ini bukan revolusi. Ini ketidaknyamanan moral.
Dan sistem kampus mulai mengendusnya, di ruang dosen, printer ber henti saat Bu Retna membuka laporan, “Aktivitas Mahasiswa Non-Struktural.”
“Gerakan bawah tanah? Ideologis? bisik seseorang. Terlihat jelas keraguan dan kekhawatiran dari nada bicaranya. Tak ada nama. Tak ada logo. Justru itu yang menakutkan.
Di ruang keamanan kampus, Pak Marwan meminta rekaman CCTV sejak tiga minggu lalu, ia mengamati dan mempelajari pola pergerakan yang terjadi, “Tidak frontal. Terstruktur. Sunyi…”
Ketakutan lembut mulai menyebar dan tiba-tiba pagi itu, kabar meledak:
Arif Ginanjar ditangkap keamanan kampus.
Alasannya?
Selebaran radikal—dengan namanya tercetak di bawahnya, dan tiba-tiba saja lorong fakultas hukum mendadak terasa seperti ruang sidang. Mahasiswa mulai menjauh pelan, tatapan berubah menjadi curiga.
Sundari membaca pesan di grup internal, jantungnya turun:
“Arif dibawa. Hati-hati. Jangan bicara dulu.”
Matanya secara refleks mencari… Rangga.
Saat menemukan lelaki itu di lorong, ia menahan napas tanpa sadar ada gurat panik dalam alis Rangga yang sedikit terangkat.
Sundari merasakan denyut halus di dadanya, seolah ada desiran dingin mengalir dalam darahnya, Bukan cinta murahan—lebih ke takut kehilangan seseorang yang ia tahu, dunia juga sedang mengawasinya. Ia meneguk ludah. Perasaan kecil itu mulai tumbuh.
Rangga berdiri kaku. Keramaian sekitar terdengar jauh, seperti tenggelam dalam air, dalam batinnya ia bergumam, Jika satu tumbang… sisanya ketakutan. Jika ketakutan menang… nyala padam. Ia menggenggam tasnya lebih keras. Untuk pertama kalinya, ia merasa apa yang ia mulai—mungkin akan menelan orang lain. Ada gurat bersalah yang tak pernah ia tulis di buku catatan manapun.
Malamnya, ruang belakang kafe tua jadi arena sunyi. Rumaisha mengecup pinggiran gelas yang sejak tadi telah habis isinya, suaranya retak: “Aku merasa bersalah… dia bahkan belum bicara banyak…”
Tirta membalas sambil mendesah ringan dan menyandarkan punggungya pada kursi, “Bukan Arif yang diserang. Ini pesan. Dunia tidak suka cahaya.”
Rayyan membentak: “Kita harus lawan! Jangan diam terus!”
Sundari memotong, tajam: “Kalau kau berteriak, siapa yang jaga mereka yang masih belajar berjalan?” Rayyan mengepal, pada wajahnya—sekilas—ada kilat kecewa. Seolah ia lebih peduli pada cara, bukan arah. Tak lama kemudian Rangga berbicara dengan suara pelan, berat dan bergetar:
“Jalan ini terjal, sepi, penuh duri, penuh rintangan, pendukungnya sedikit, penentangnya banyak, kedzaliman datang bergelombang.”
Namun getaran suaranya baru kali ini terdengar takut. Rangga kemudian berdiri di tengah lingkaran,
“Saudaraku… kita hidup di zaman di mana kebenaran jadi komoditas, dan kebohongan jadi panggung, Kita ditertawakan karena bicara kejujuran. Kita dicibir karena ingin lurus. Tapi dengarkan ini baik-baik—karena ini bukan kata-kataku, Ini suara kebenaran yang di wariskan turun temurun sejak dahulu dari generasi ke generasi.”
Ia mengeluarkan selembar kertas lusuh dari sakunya. Matanya menyapu wajah mereka satu per satu.
“Dengar baik-baik…
‘Sesungguhnya sebuah cita-cita hanya akan berhasil diwujudkan manakala kuat rasa keyakinan kepadanya, ikhlas dalam berjuang di jalannya, semangat dalam merealisasikannya, dan kesiapan untuk beramal dan berkorban dalam mewujudkannya.’
Ini bukan slogan. Ini empat syarat hidupnya perjuangan: iman, ikhlas, semangat, dan amal. Dan keempatnya, lahir dari satu tempat: jiwa pemuda.” Ia diam sebentar. Ruangan hening. Mata mereka menatapnya tanpa berkedip. Lalu Rangga melanjutkan dengan tegas, namun tenang,
“Karena dasar iman itu nurani yang menyala. Dasar keikhlasan itu hati yang bertakwa. Dasar semangat adalah perasaan yang menggelora. Dan dasar amal adalah kemauan yang kuat.”
“Dan semua itu—semua itu, hanya akan benar-benar tumbuh di dada pemuda yang berani memilih luka daripada lupa.”
Rangga menunduk sejenak. Ia menarik nafas. Suaranya kini lebih dalam, lebih lembut, tapi menghantam, aliran emosi nya terasa sekali menjalar bersama kata-katanya.
“Kita tak sedang membangun kerumunan. Kita sedang menyambung warisan, menjaga mata rantai perjuangan para pendahulu. Perjuangan ini tidak akan ramai oleh pujian dan tepuk tangan, jalan ini tidak akan lapang, ia sepi berliku, dan pendukungnya akan sedikit, aral menghadang dan kedzoliman akan datang bagai gelombang. Tapi itulah harga kebenaran. Ia mahal, karena ia tak bisa dibayar dunia.” Ia bergerak mendekat ke tepi lingkaran,
“Dan aku tidak mengajak kalian untuk menang. Aku mengajak kalian untuk hidup—sebagai cahaya, sebagai nyala, sebagai penunjuk jalan. Kita adalah generasi yang mewarisi abu. Tapi jika kita rela menyala lagi, bahkan hanya setitik, maka sejarah akan menuliskan bahwa nyala itu tak pernah benar-benar padam.”
Di akhir pertemuan, tak satu pun dari mereka bicara. Tapi mata mereka berubah, tekad mereka telah mantap. Esoknya, gelombang sunyi menyapu kampus, Papan pengumuman kampus, yang biasanya diisi lomba karya tulis dan seminar karier, kini kadang ditempeli secara diam-diam kertas kecil bertuliskan:
“Berbuat baik itu perlawanan di zaman kebusukan.”
“Jangan tanya siapa lawanmu. Tanya, apakah kamu sudah jadi manusia.”
“Rindu Tuhan adalah panggilan bagi generasi yang lelah menjadi boneka.”
Kata-kata itu tidak ditandatangani, tidak berpamflet, tidak memakai logo. Tapi satu demi satu, mahasiswa memotretnya. Ada yang membagikannya diam-diam. Ada yang menyalinnya di catatan mereka.
Media kampus menulis:
“Kebangkitan Sunyi: Saat Diam Berbicara.”
Komentar mahasiswa memancar. Sistem panik, Gerakan moral bangkit.
Senja di pelataran masjid, saat sisa hujan menempel di daun akasia. Rayyan menghampiri Rangga. wajahnya tampak murung dan gelap.
“Aku temukan ini.”
Rekaman audio:
“Taruh nama dia, Anak baru”
“Kita lihat, siapa yang membela”
“Dari situ, kita tarik benangnya”
Rangga memejam, dadanya seperti ditusuk perlahan. “Ini bukan serangan luar, Ini jebakan dari dalam.” Rayyan mengangguk. Tetapi ada sesuatu di sorot matanya, kegelisahan bercampur, kenikmatan menemukan celah.
Malam itu, di kafe yang biasa, setelah rekaman diputar dua kali, Satrio dengan gelisah berkata, “Kalau ini dari dalam, kita tak tahu siapa musuh kita.”
“Kalau kita curiga semua orang, kita sendiri yang runtuh.” Tirta menyampaikan pendapatnya
Sundari menatap Rangga lama, ada sesuatu di matanya, bukan hanya cemas. Takut kehilangan seseorang yang memegang pintu jiwa mahasiswa lain. Hatinya berdesir kecil—ia benci merasakannya, pelan ia berkata “Tapi kita harus tentukan sikap. Diam terlalu lama bisa mematikan nyala.” Rangga berdiri pelan, menatap jendela yang basah. Detik itu, seluruh ruangan seperti mengempis, sambil menahan gejolak di dadanya, perlahan ia berucap,
“Kalian tahu kenapa ini terjadi? Karena dunia ini alergi pada ketulusan. Ia terbiasa dengan kebisingan, dengan kebohongan. Maka saat datang seseorang yang jujur… ia tak tahu harus apa. Ia ketakutan.”
Ia melangkah ke tengah ruangan. Mengangkat lembar buku catatan berisi salinan risalah yang sudah lembap karena sering dibawa ke mana-mana. Ia membaca keras-keras:
“Wahai pemuda, janganlah kalian takut jika jalan ini sepi. Janganlah kalian undur karena kesendirian. Jalan ini memang terjal, panjang, dan penuh onak duri. Tapi ia telah dilalui oleh para shiddiqin dan syuhada sebelum kalian.” Ia menutup kertasnya, suaranya bergetar,
“Aku tidak akan mundur. Tapi aku juga tidak akan membawa kalian ke jalan yang kalian tak siap menapakinya.” Sunyi menggantung seperti kabut.
Rumaisha bersuara suara lirih “Aku akan tetap berjalan. Mungkin pelan. Tapi aku tak ingin kembali ke kegelapan.”
Tirta merespon dengan tegas, “Jika Arif dijadikan korban, maka kita harus menjadi saksi. Yang tetap teguh. Tapi bijak.”
Rayyan: “Aku akan cari tahu siapa yang menjebak Arif.”
Rangga menatap Rayyan dalam-dalam. Ada sesuatu dalam tatapan itu yang mengganjal… tapi ia belum tahu apa.
Di buku kulit tua peninggalan kakeknya, ia menulis:
“Pengkhianatan itu pahit. Tapi kepahitan itulah yang menyaring hati—hingga bening.”
Sundari menggenggam tasnya lebih erat dari biasanya. Tirta menatap jalan kosong seperti membaca isinya. Rumaisha menulis sesuatu di jurnalnya:
“Kita diuji bukan karena kita salah. Tapi karena kita benar di zaman yang salah.”
Dan Rangga berdiri paling akhir, di tengah gerimis yang belum berhenti. Dalam hati ia bergumam, Jika satu dari kami tumbang… maka kami harus belajar menyalakan yang lain. Dan aku… tak boleh padam dulu.” Malam itu menjadi saksi bisu, bahwa bara-bara kecil mulai menyadari jika Api bukan hanya menerangi, tapi ia juga menunjukkan bayangan.
GERAKAN DALAM BAYANGAN
Langit Purbalaya tidak lagi hanya mendung; ia menahan sesuatu. Di koridor kampus, bisikan-bisikan seperti asap tipis: tidak terlihat, tapi tercium tajam. Di ruang belakang kafe tua—yang dindingnya dicat krem kusam, lampu temaram, jendela ditutup tirai abu-abu—enam wajah duduk mengitari meja. Gelas teh sudah hambar. Suasana seperti menunggu letusan.
Rangga membuka pembicaraan, dengan berkata pelan, “Arif tidak bersalah. Dia hanya ikut duduk, mendengar. Dunia menganggap itu kriminal?” Tidak ada yang menjawab. Hanya suara hujan mengetuk atap. Sundari menatap Rangga lama, ada gurat cemas yang tak ia akui—not even to herself. Seolah ia takut dunia tidak hanya mencuri gerakan ini, tapi juga… seseorang di dalamnya.
Rayyan menyandarkan badanya ke kursi lalu menyilangkan tangan di depan dada. Tersenyum tipis, “Kita demo. Kita buat suara besar. Media masuk, rektorat panik. Itu cara klasik yang selalu berhasil.”
Satrio menggeleng cepat, “Demo bikin mereka punya alasan untuk tempel label baru: radikal. Kita masuk ke perangkap.”
Tirta menyela, tenang: “Kita hadapi gelap dengan cahaya. Bukan api yang membakar.”
Semua menoleh ke Rangga. Lelaki itu menghela napas, dalam, bahunya terasa berat. Dengan pelan dan tajam, ia lalu berkata, “Jika kita hanya bicara… maka gerakan ini mati hari ini. Kita harus bertindak. Tapi dengan kepala dingin.” Ia mengeluarkan map lipat. Empat lembar tersusun rapi. Strategi Pembebasan Arif. Tinta merah dan biru berkelindan rapi—garis, catatan, nama.
Rayyan mengangkat alis, “Kau menyiapkan ini sebelum rapat?” Rangga tidak menjawab. Hanya tersenyum samar, getir, “Gerakan yang tidak siap, akan selalu jadi korban.”
Langkah Pertama – Validasi Akademik
“Tirta,” kata Rangga, “kau punya akses ke presensi kelas. Buktikan Arif ada di kelas reguler saat selebaran itu muncul.” Tirta mengangguk. Mata tenangnya menyorot tajam.
Langkah Kedua – Kredibilitas Moral
“Rumaisha,” lanjutnya, “kau punya surat rekomendasi moral dari Bu Diah. Lampirkan. Poin paling kuat datang dari orang yang dihormati.” Rumaisha menggigit bibir. “Aku simpan di jurnal. Besok kubawa.”
Langkah Ketiga – Dukungan Figur Kampus
“Sundari, kau bicara ke Dea dan Nurul. Mereka punya suara di BEM dan senat mahasiswa. Kita butuh 3 testimoni—tidak lebih.” Sundari mengangguk. Tapi matanya tidak lepas dari wajah Rangga. Diamnya adalah kecemasan halus.
Langkah Keempat – Narasi Publik
“Rayyan,” kata Rangga, “kau tulis surat terbuka—tapi tenang. Jangan menyerang.” Rayyan mengernyit. “Kalau kita terlalu lembut, mereka injak kita.”
Rangga menatapnya dingin: “Kalau kita terlalu keras, mereka punya alasan untuk memukul.” Otot rahang Rayyan mengencang. Dalam sorot matanya, ada kilat kecil—ambisi yang merasa dikekang.
Langkah Kelima – Perlawanan Sunyi
“Kita pasang poster kecil di titik strategis, papan pengumuman BEM, papan fakultas hukum, ruang sekretariat UKM.
Tulisannya sederhana, humanis:
“Menjadi lebih baik bukan kriminal.”
“Mendengar bukan radikal.”
“Bebaskan Arif, selamatkan akal sehat.”
Bukan logo.
Bukan kelompok.
Hanya nurani.
Langkah Keenam – Legal Review
“Satrio,” kata Rangga, “kau pahami SOP keamanan kampus. Temukan celah prosedur—jika ada pelanggaran administratif, kita pukul dari situ.”
Satrio tersenyum tipis, “SOP kampus penuh lubang. Kau yakin mereka siap?”, “Tidak,” jawab Rangga. “Itu masalah mereka.”
Dan hari itu mereka bergerak, bukan kerumunan, bukan megafon. Mereka bergerak seperti embun,senyap,pelan,bersih, tapi melapisi segalanya. Poster muncul tiba-tiba, Surat terbuka viral di kanal kampus entah darimana asalnya, transkrip presensi Arif tersebar, testimoni moral mengalir.
Di meja dosen:
“Menjaga satu mahasiswa adalah menjaga akal sehat generasi.”
Di grup akademik:
“Arif pemalu. Bicaranya sopan. Bagaimana mungkin dia radikal?”
Di kanal kemahasiswaan:
#ArifTidakSendirian
Rektorat membaca, alis mengerut. Pak Marwan membaca print-out laporan solidaritas sunyi. “Tidak frontal,” gumamnya, “Tapi terstruktur. Rapi.”
Wakil Rektor mengetuk meja tiga kali. “Yang seperti ini… jauh lebih berbahaya dari demo massal.”
Dan di tengah semua itu, Arif tersenyum di kamarnya yang sempit, “Mereka menjagaku. Dan aku tahu… aku tak sendiri lagi.” Di dalam hatinya, Rangga sadar: Ini bukan hanya pembelaan Arif, Ini ujian ruh gerakan itu sendiri, ini ujian bagi ukhuwah di antara mereka.
Malam kedua, mereka kembali ke kafe. Rumaisha membaca bagian surat Arif, Suaranya retak. “Aku tidak ingin jadi penguasa. Aku hanya ingin jadi manusia lebih baik.”, Air di matanya bergetar—tidak jatuh.
Tirta mendesah: “Kalimat itu… menyentuh batas nurani.”
Rayyan mengetuk meja. “Ini momentum! Kita gas lagi—buat pernyataan nasional!”
Rangga mengangkat tangan. “Tidak.”
Rayyan menegang. “Kenapa?! Ini momen besar!”
Karena itu justru jebakan, sambung Rangga: “Jika gerakan ini mengejar panggung… maka kita sudah kalah sebelum memulai.”
Sundari menatap Rangga lama. Di balik sorot matanya, ia menyimpan kekaguman yang ia benci untuk mengakuinya.
Paginya, Pengumuman resmi kampus keluar.
Arif dibebaskan.
Tidak ada pelanggaran ditemukan. Kasus dihentikan. Kampus riuh, Tapi tidak ada sorak sorai, hanya senyum-senyum tipis, yang paham bahwa kebenaran bisa dibela tanpa megafon. Di lorong fakultas, Arif menggenggam tangan Rangga kuat-kuat. “Bagaimana aku membalasmu?” Rangga hanya tersenyum: “Balas dengan menjadi manusia lebih baik.” Ekspresi Arif retak—ada rasa ingin menangis.
Namun, Saat semua memeluk kemenangan sunyi itu, kamera CCTV memotret satu sosok berdiri di ujung lorong: Rayyan. Ia tidak tersenyum Justru, matanya berkaca-kaca bukan haru, tetapi karena gerakan hari ini berhasil tanpa gaya oratoriknya. Ambisi itu terluka.
Malam, Rangga menulis di buku kulit tua: “Satu orang terselamatkan. Satu ruh kembali menyala. Maka gerakan ini hidup.” Ia menutup buku. Di luar, angin malam membawa aroma hujan. Namun jauh di sudut kampus, ada seseorang yang menelepon dalam bisik:
“Ya. Mereka solid. Tapi pemimpinnya hati-hati sekali.”
“Tidak, dia belum bisa dikendalikan.”
Langit Purbalaya menahan petir.
KESUNYIAN YANG DISUCIKAN
Kabut belum sepenuhnya sirna dari jendela bus yang meluncur perlahan menuruni lereng Cakrabuana. Pepohonan pinus berdiri tegak seperti barisan penjaga yang membisu. Di dalam bus, Rangga duduk membeku. Tubuhnya bersama penumpang lain, tapi jiwanya masih tertinggal di saung kayu dan suara Ki Raksa yang bergema seperti doa di dalam dadanya. Di balik jaket lusuhnya, buku kecil berisi catatan risalah itu tersimpan rapat. Bukan lagi sekadar teks—ia telah menjadi jantung kedua. Setiap kalimat kini berdetak, menyatu dengan aliran darah dan menampar kesadarannya berulang-ulang. Salah satunya bergema paling keras:
“Sesungguhnya, sebuah pemikiran itu akan berhasil diwujudkan manakala kuat rasa keyakinan kepadanya, ikhlas dalam berjuang di jalannya, semakin bersemangat dalam merealisasikannya, dan kesiapan untuk beramal dan berkorban dalam mewujudkannya…”
Kepalanya bersandar ke jendela. Embun tipis menyapanya. Dalam diam, pikirannya bertanya: "Apakah aku punya iman yang cukup? Atau hanya semangat yang keras kepala?" "Ikhlaskah aku? Atau hanya ingin melawan luka masa lalu?" "Apakah aku sungguh berjalan, atau sekadar berlari dari kehampaan?"
Purbalaya menyambutnya seperti kota yang tak tahu ia pernah pergi. Asap kendaraan mengepul, berita politik tetap bergema dari layar-layar, dan manusia masih berjalan cepat tanpa tujuan yang dalam. Tapi bagi Rangga, semuanya tak lagi sama. Ia kembali, tapi bukan sebagai orang yang sama. Di kamarnya yang remang, ia menyalakan lampu meja. Lembar-lembar risalah itu ia buka perlahan, seperti membuka luka yang ingin ia sembuhkan. Tangannya menyentuh kertas tua itu seperti menyentuh kulit jiwanya sendiri. Lalu satu kutipan menampar:
“Wahai pemuda, perbaruilah iman, kemudian tentukan sasaran dan tujuan langkah kalian. Sesungguhnya, kekuatan pertama adalah iman. Buah dari iman adalah kesatuan. Dan konsekuensi logis kesatuan adalah kemenangan yang gilang gemilang.”
Ia bangkit. Menyapu meja. Menarik buku catatan kulit tua milik kakeknya. Membuka laptop dan menarik kertas kosong. Ia tahu… sesuatu harus dimulai malam ini. Bukan rencana revolusi. Tapi peta perjuangan. Sebuah garis langkah. Pilar demi pilar.
MEMBANGUN ULANG IMAN “Aku harus mulai dari dalam. Membersihkan sisa luka dan dendam. Keimanan bukan retorika, tapi ketundukan.”
MENYUSUN LINGKARAN UKHUWAH “Aku butuh satu atau dua orang. Yang jujur, yang sabar, yang sadar. Aku akan ajak Sundari.”
MEMBUKA RUANG KESADARAN “Lewat diskusi, tulisan, mentoring sunyi. Bukan panggung, bukan sorakan. Tapi suara yang masuk lewat hati.”
MENANAM AMAL KECIL “Cita-cita ini harus menjadi langkah. Sekecil apapun, harus nyata.”
Ketika ia berhenti menulis, ia sadar: malam itu ia tak hanya menyusun rencana. Ia sedang menyusun ulang hidupnya. Dan saat pena berhenti menulis, Rangga menyadari: ia telah menulis ulang hidupnya. Tangan yang dulu mencaci, kini mulai merancang. Dada yang dulu membakar, kini mulai menyala.
Menjelang subuh, ia membuka kembali kotak tua milik ibunya. Di dalamnya, sepucuk surat yang mulai pudar. Tulisan tangan itu, milik ayahnya, Dharma Praja:
“Maafkan aku, Rahmi. Aku ingin mengubah dunia dengan kemarahanku. Tapi aku tak pernah merundukkan kepala kepada Tuhan. Aku membakar, tapi tak sempat menanam. Jika anak kita menemukan risalah ini, katakan padanya: Jadilah air, bukan api. Sebarkan cahaya, bukan luka.”
Tangannya gemetar. Tapi dadanya tak lagi pecah oleh marah—melainkan digenangi keteguhan. Rangga memejamkan mata. Tubuhnya merinding. tapi bukan karena kesedihan melainkan karena tekad yang menyala.
Pagi menyingsing perlahan. Cahaya matahari masuk menelusup dari sela gorden. Rangga berdiri di hadapan jendela. Udara pagi mengelus wajahnya, seperti salam dari langit. Tangannya membuka ponsel. Ia kirim pesan ke Sundari: “Aku ingin bicara. Tapi bukan soal kita. Aku ingin bicara soal mereka… dan soal sebuah warisan sejarah.” Lalu ia melangkah ke meja, melipat lembaran risalah itu dengan rapi, dan menyelipkannya di buku catatan kulit tua milik kakeknya. Langkah kecil. Tapi hari itu, dunia punya satu pemuda yang memutuskan untuk tidak hidup sia-sia.
“Aku tidak ingin menjadi pemuda yang sekadar besar suara, tapi kecil cita-cita. Aku ingin menjadi bagian dari kemenangan yang lahir dari iman. Dan jika aku hanya bisa jadi awalnya.itu pun cukup bagiku.”
Pagi itu, dunia mungkin belum berubah, ia tetap gaduh. Tapi di sebuah kamar kecil di sudut Purbalaya, seorang pemuda telah memilih jalan baru. Seorang pemuda telah bangkit dari diamnya. Rangga tak punya panggung. Ia tak memiliki massa, atau kekuatan. Tapi ia punya tujuan hidup, ia punya harapan, ia punya cita-cita. Ia punya iman yang sedang tumbuh, ikhlas yang sedang dilatih, semangat yang mulai berpendar, dan amal yang hendak ia mulai. Ia punya keyakinan bahwa kebangkitan selalu dimulai dari kebangkitan ruhani. Karenanya, di antara empat itu, ia tahu, langkah pertama yang harus dilakukan adalah memanggil satu jiwa lain untuk berjalan bersamanya.
Rangga melangkah keluar dari kamarnya, perlahan, dengan langkah pasti penuh keyakinan. Di tangannya, buku catatan dan lembar risalah telah terlipat rapi. Di dadanya, cahaya kecil mulai menyala—belum besar, tapi cukup untuk menuntun satu langkah ke depan, dan itu cukup untuk memulai.
“Perubahan besar tidak selalu dimulai dari pasukan. Kadang, ia lahir dari dua jiwa yang duduk di sebuah meja kecil, membicarakan cinta, luka, dan cita-cita.”
Malam turun di Purbalaya seperti selimut basah yang menahan sesak. Angin menusuk tulang, membawa bisik-bisik kosong lorong kampus yang sepi lebih awal dari biasanya. Dari beranda lantai tiga asrama, Rangga berdiri diam, punggungnya menegak tapi matanya kosong ke kejauhan. Kabut menggantung di atas gedung fakultas. Samar. Goyah. Seperti kepercayaan yang mulai retak.
Rekaman suara dari Rayyan terus terputar di benaknya—lirih tapi menusuk, jauh lebih tajam dari tuduhan mana pun. Sebuah jebakan. Seseorang dari dalam lingkaran mereka. Arif menjadi umpan. Dan tidak ada nama yang benar-benar aman. Ia mengepalkan buku catatan tua peninggalan kakeknya. Halaman-halaman di dalamnya seperti menjadi berat, menuntutnya untuk berhenti berperang sebentar dan kembali ke mata air yang dulu mengubahnya. Hanya ada satu tempat yang bisa menenangkan badai seperti ini.
Langit dini hari tampak seperti kertas basah yang kehilangan warnanya. Lampu jalan menyala setengah redup, seolah ikut gelisah. Setelah subuh, Rangga pergi tanpa suara. Tidak ada pamit. Tidak ada penjelasan. Hanya satu pesan singkat yang ia sisipkan di grup internal,
“Cahaya tidak lahir dari keramaian. Ia lahir dari kesunyian yang disucikan.”
Sundari membaca pesan itu di kamarnya. Ia menggigit bibir bawah tanpa sadar. Dadanya terasa tertarik sesuatu yang tak bisa ia namai. Jarinya berhenti tepat di atas tombol ponsel—ingin bertanya, ingin menahan, ingin tahu. Tapi ia hanya mengetik satu kata: “Hati-hati.” Lalu menghapusnya. Ia menutup layar. Menekan dadanya pelan. Dan Diam, Lama. Ada ruang baru yang tumbuh, perasaan yang ia takut untuk menyiramnya.
Bus kota tua membawa Rangga dari terminal bawah, kaca jendelanya buram oleh embun dan rasa ragu. Dari sana, ojek tua mengantar ke kaki gunung, menembus jalan berbatu. Di dalam ranselnya hanya ada sebotol air, risalah tua, dan selembar tekad yang baru menetas. Jalan setapak menuju Cakrabuana lengang. Embus angin berbau tanah basah, seperti bau masjid tua selepas hujan. Daun-daun jatuh berputar pelan, seolah menyapa.Setiap langkah Rangga seperti memutar kenangan, Wajah Arif yang gemetar saat bebas, Suara Rumaisha yang pecah tapi tak menangis. Sorot mata Rayyan—tajam, gelap, menyimpan sesuatu. Dadanya mengeras. Kabut tipis membuka jalan menuju saung kayu. Asap tipis mengepul dari cerobong dapurnya. Aroma kayu bakar bercampur wangi teh dan daun kering.
Di beranda, Ki Raksa duduk menatap hutan, seolah sudah menunggu berhari-hari. Ki Raksa menyapa tanpa menoleh, “Angin di bawah sana sedang gaduh, ya?” Rangga menurunkan ranselnya. Bahunya jatuh—bukan karena lelah tubuh, tapi karena ada beban yang tak bisa ia bagi pada siapa pun. Dengan suara sedikit serak, ia menyahut, “Kami menyelamatkan Arif, tapi kehilangan ketenangan. Ada yang menjebak dari dalam. Orang-orang mulai saling curiga. Aku pun mulai ragu pada langkahku sendiri.”
Ki Raksa menuangkan teh. Air mengisi cangkir dengan bunyi halus—bunyi yang justru terasa paling keras di tengah kecemasan.
“Kau mulai menyinari. Maka bayangan mulai tampak.”
Hening. Burung kecil mencicit jauh di bukit. Hutan seperti menahan napas, sesaat kemudian Rangga berkata pelan “Gerakan ini tumbuh. Tapi aku takut akar kami dangkal. Kami mudah goyah. Aku bingung membedakan sahabat dan musuh.” Ki Raksa tersenyum tipis, seperti menahan rahasia masa lalu. “Karena dakwah bukan tentang banyak. Ia tentang jernih, Musuhmu bukan manusia. Musuhmu adalah kabut di hati.”
Rangga memejam, bahunya gemetar halus. “Haruskah aku mempersempit barisan? Menyingkirkan yang samar?”
Ki Raksa menggeleng pelan. “Pohon besar tidak tumbuh karena rajin menebang ranting. Ia tumbuh karena menanam akar lebih dalam.”
Ia menatap mata Rangga. “Sekarang waktumu memperdalam. Bukan memperluas.”
Rangga menatap risalah tua, jemarinya bergetar. Di halaman yang sudah menguning, sebaris kalimat seolah menyala:
“Jalan ini panjang, penempuhnya sedikit, musuhnya banyak, tapi ia akan sampai… karena ia diberkahi.”
Rangga menggigit sisi bibirnya—tanda ia sedang menahan gemuruh di dada, “Tapi kalau di tengah jalan aku sendirian… kalau semua pergi…”
Ki Raksa menatap tajam, “Itulah tanda kau benar.”. “Cahaya yang sejati selalu diuji dengan kesepian.” Sunyi turun seperti salat yang ditahan sebelum salam. “Lanjutkan. Tapi kali ini lebih sunyi, lebih sabar, lebih jernih.” Rangga menghembuskan napas panjang. Tangannya mengepal pelan. Dan untuk pertama kalinya sejak Arif ditangkap, wajahnya menemukan kembali arah.
Ia turun gunung sebelum matahari naik tinggi. Kabut membuka jalan seperti tirai. Langkahnya pelan, tapi pasti. Di dadanya, ada ruang baru—dan di ruang itu ada cahaya kecil yang menyala tanpa suara. Gerakan ini tidak akan dibangun oleh kerumunan. Ia akan dibangun oleh kedalaman manusia.
Di Purbalaya, sore itu, Sundari duduk di sudut perpustakaan. Buku terbuka, tapi matanya tidak membaca. Ponselnya sesekali ia cek, tidak ada kabar baru. Ia menatap jendela lama, di mana cahaya sore jatuh seperti garis-garis emas. Ia membatin dalam hati nya yang merindu, “Kembalilah dengan baik…” Tidak lebih dari itu. Tapi pikirannya kembali ke lorong—ke cara Rangga menatap ketika dunia sedang runtuh. Ia menutup buku, tersenyum pelan. Ada benih yang tumbuh, halus, tipis, rapi dan sunyi, ia takut menyiramnya. Tapi takut pula membiarkannya mati.
Sementara itu, kabut di kaki Cakrabuana pelan memudar, dan Rangga melangkah kembali ke dunia bawah—membawa satu keputusan sunyi:, “Dari sini, aku tidak lagi membesarkan suara, Aku membesarkan ruh dan membangkitkan jiwa.” Karena ia mengerti kini, gerakan tidak hanya hidup dari yang berteriak keras. Ia hidup dari mereka yang memilih cahaya—meski harus membakarnya di dada sendiri.
GELISAH YANG MENGENDAP
Kabut pagi turun lebih tebal dari biasanya. Langit Purbalaya pucat, seolah menghemat warna. Begitu Rangga memasuki gerbang kampus, ada sesuatu yang—ia tak tahu—mendadak hilang. Mungkin kenyamanan. Mungkin kepercayaan. Pintu gerbang dijaga dua satpam tambahan. Mereka tidak memeriksa tas. Tidak bertanya. Hanya memandangi. Memandangi terlalu lama. Rangga menunduk. Dadanya mengencang. Ini bukan penjagaan. Ini pengamatan. Lorong Fakultas Hukum riuh rendah bisikan kecil. Mahasiswa berjalan lebih cepat dari biasanya, memeluk buku lebih erat.
“Ada daftar pantauan UKM.”
“Jangan ikut halaqah dulu.”
“Media kampus disurati.”
Kata “pantauan” jatuh seperti paku ke lantai. Rangga tidak menanggapi. Tapi matanya menangkapnya—satu per satu—dan menyimpannya di peta batinnya. Semua ini tidak muncul dari nol.
Arif duduk sendiri di kantin. Kursinya kosong di sekeliling, seperti lingkar isolasi. Wajahnya pucat, suaranya pecah: “Aku dengar… aku mungkin dapat sanksi akademik. Jika itu terjadi… ibuku… aku tak bisa pulang.” Rangga duduk tanpa ragu. “Kita tidak akan membiarkan kau berjalan sendirian.” Kalimat itu terdengar sederhana. Tapi di mata Arif—itu pintu yang membuka napas. Lalu Tirta datang, meletakkan buku. Rumaisha duduk diam meremas gelasnya. Solidaritas tidak butuh poster. Butuh kehadiran.
Gedung Rektorat — “Pertemuan pembinaan”.
Dosen muda berbatik cerah berdiri sambil tersenyum sehangat selimut. “Kami mendapat laporan adanya aktivitas diskusi non-struktural. Bukan masalah, hanya… arahkan pada kegiatan akademis yang terdaftar.”
Nada lembut. Kalimat lunak. Tapi catatan di meja staf menulis perlahan: Rangga. Tirta. Rumaisha. Rayyan. Sundari. Pensil bergerak seperti jarum jam. Senyuman dosen itu terlalu lama. Pembinaan adalah peringatan. Peringatan adalah ancaman yang diberi pita.
Sore—Cahayanya seperti perunggu, saat rangga membawa ranselnya, tanpa di sadari ujung ransel menabrak pundak Sundari, buku-buku hampir terjatuh dari tangan Sundari, Refleks, Rangga menangkap sisi bawah tumpukan. Sentuhan jari bertemu. Sedikit. Sekejap, tapi keduanya menarik tangan terlalu lambat. Sundari menunduk cepat—pipi memanas tipis. “Sudah kembali…” Rangga mengangguk. “Gunung mengajariku satu hal: pohon besar harus mengakar dulu sebelum meninggi.” Sundari tersenyum kecil—indah karena ditahan. “Kalau kau hilang lagi tanpa kabar, aku… kami… tidak tahu harus menunggu pada apa.” Kata “aku” meluncur lebih dulu, Lalu ia menutupinya dengan “kami”. Rangga menangkap itu. Dadanya menghangat—di tengah dingin dunia. Sudut halaman belakang kampus terlihat Rayyan berdiri di depan papan mading. Kertas-kertas risalah sunyi berserakan:
“Kejujuran adalah ketakutan terbesar bagi penguasa yang menggigil.”
“Berbuat baik adalah pemberontakan moral.”
Alih-alih terpesona, Rayyan mendesis: “Kata-kata bagus tidak menakutkan siapa pun.” Matanya gelap. Rahangnya mengeras. Belakang bibirnya, ada rasa ingin mengaum. Rangga memanggilnya pelan: “Kita bergerak halus. Kita belum siap benturan.” Rayyan menatap—tanpa kedip. “Kita tidak akan pernah siap kalau kau terus ingin jinak.” Nada itu terlalu keras untuk sunyi sore.
Rapat lingkaran rahasia malam itu terasa tebal. Lampu bohlam kuning berkedip. Meja kayu retak halus—seperti nadi retak gerakan. “Kita kumpulkan bukti. Lembaga bantuan hukum kampus siap dampingi Arif. Tanpa provokasi.” Tirta memulai pembahasan, “Kita bangun opini moral. Kita ajak dosen-dosen yang adil.”
Rayyan menggebrak meja—pelan, tapi ketus. “Semua lambat!”
Rangga menatapnya dingin. “Yang lambat itu justru api yang paling lama padam.”
Rayyan mendengus, tersenyum miring. “Kau mulai terdengar seperti buku-buku tua. Dunia butuh guntur, Rangga.”
Sekeliling menegang. Tak ada yang berani menyela. Sundari akhirnya bicara—lirih tapi tajam, “Kau ingin guntur untuk siapa? Mereka… atau egomu?” Jawaban itu mengiris udara. Rayyan terdiam. Terlalu lama. Rapat bubar dalam sunyi yang pecah, Satu demi satu, mereka keluar seperti bayangan melayang. Rangga keluar terakhir. Di tangga luar, Sundari berdiri menunggunya.
Di bawah lampu jalan kuning, kerudung putihnya memantulkan warna madu. Bayangan panjang di lantai membatasi jarak mereka. “Kau pergi… dan kembali berbeda,” ujarnya pelan. Rangga tidak menyangkal. “Di gunung… aku melihat jalan dari jauh. Dan jalan kita… bercabang.”
Hening.
Sundari menatap dalam., “Kau akan memilih cabang yang lebih sunyi, ya?”
Rangga mengangguk. “Yang sunyi… sering paling benar.”
Sundari menggenggam tasnya lebih erat. Senyumnya getir. “Dan paling membuat orang mengkhawatirkanmu.”
Untuk pertama kalinya, Rangga kehilangan kata.
Larut malam, kamar Rangga gelap. Hanya lampu meja menyala. Ia membuka buku catatan kakeknya. Di halaman baru ia menulis:
“Ketika cahaya tumbuh, bayangan ikut meninggi.”
“Kami mulai menakutkan—bukan karena jumlah kami, tapi karena moral kami.”
Di bawahnya, ia menambahkan kecil:
“Rayyan retak.”
Lalu—ketukan pelan di pintu.Tiga kali. Lambat.
Rangga berdiri, dada mengeras.
“Siapa?”
Diam.
Tidak ada jawaban.
Ketukan lagi. Dua kali. Lebih pelan.
Ia membuka pintu—lorong kosong, lampu berkedip, tidak ada siapa pun. Di lantai ada secarik kertas.
“Besok. 08.00. Dekanat.”
Nama: Rangga
Tanpa kop, tanpa stempel.
Justru itu menakutkan. Ia menutup pintu pelan, punggungnya menempel ke kayu. Matanya terpejam. Gelombang sunyi berubah menjadi badai kecil.
Besok…
sesuatu akan pecah.
Ruang rapat lantai dua Gedung Serbaguna A tampak wajar dari luar. Lampu putih menyala rata. Meja-meja disusun berbentuk huruf U. Air mineral tersaji. Semua tampak formal. Terlalu formal—untuk sesuatu yang tidak diumumkan. Ketika Rangga masuk, beberapa wajah menoleh tanpa senyum. Ada tiga dosen muda, dua staf akademik, satu pengawas kemahasiswaan.
Dan—Rayyan, duduk tenang.
Tatapan Rangga singgah sebentar pada Sundari, yang memegang map biru di pangkuan. Bibirnya menegang halus. Ia tidak diundang—tapi hadir.
Ketua rapat—dosen berjas abu-abu—membuka map. “Saudara Rangga Dirga Praja. Anda diundang untuk klarifikasi. Ada laporan kompilasi aktivitas ideologis yang tidak sesuai prosedur.” Kata ideologis jatuh seperti batu ke air yang tenang. Rangga duduk lurus. “Diskusi moral-spiritual bukan pelanggaran.” Dosen itu tersenyum sempit. “Jika berdampak pada dinamika kampus, bisa menjadi pelanggaran etis.”
Sundari menegang, Jemarinya meremas. Rumaisha menunduk dalam, bibirnya pucat. Di sisi kiri meja, Rayyan mengatur napas perlahan, Ia tampak rapi, kemeja putih, dasi hitam. Tidak seperti orang yang gugup. Ketua rapat mengeluarkan satu lembar fotokopi. “Selebaran Arif ditemukan di laci media mahasiswa. Ada dokumen digital… dan nama Anda sebagai referensi sumber materi.”
Rangga menatapnya. Jernih. “Itu fabrikasi.”
“Kami punya saksi.”
Semua mata berpindah…
…ke Rayyan.
Ia berdiri pelan. Menghela napas seolah berat. Gaya aktor yang memerankan beban moral. “Saya… tidak ingin kampus ini kacau. Saya menghormati Rangga sebagai sahabat. Tapi… beberapa materi itu—menurut saya—sudah melewati batas.” Dosen muda menulis cepat. Staf mengetik. Rayyan melanjutkan: “Diskusi seperti itu… bisa dimanfaatkan pihak luar untuk kepentingan politik.” Dunia membeku.
Rangga menatap Rayyan. Tatapan dua pemuda yang pernah duduk lingkaran… kini berhadapan. “Aku tahu kau menginginkan panggung,” suara Rangga pelan. “Tapi bukan di atas leher sahabatmu.”
Rayyan tersenyum tipis, terlalu tipis. “Kadang demi masa depan… kita harus mengorbankan orang-orang kuat untuk melindungi yang lemah.” Kalimat yang tinggi, dipakai untuk menusuk dari bawah. Sundari berdiri. “Rayyan, kau tahu ini jebakan moral, dan kau memilih berdiri di sisi mana?”
Ketua rapat mengetok meja kecil. “Silakan duduk. Mahasiswa tidak boleh mengintervensi.”
Sundari duduk—perlahan—tapi matanya menyala. Dan perlahan, pupilnya berkaca. Seperti kaca yang retak namun tidak pecah.
Dosen lain membuka file, “Ada catatan pertemuan tidak berizin, potensi indoktrinasi, dan indikasi kaderisasi terselubung.” Rangga menyanggah pernyataan itu, “Kami tidak menyusun massa. Kami menyusun jiwa.” Pengawas kemahasiswaan mengangkat alis. “Kalimat yang indah… tetapi berbahaya.” Kalimat itu menempel di udara.
Tirta berdiri dari bangku tamu. “Dengan hormat, setiap kampus punya tanggung jawab moral. Melatih integritas bukan indoktrinasi.”
Ketua rapat memotong dingin. “Anda pendamping. Tidak relevan.”
Tirta duduk. Rahangnya menggembung. Rumaisha menggenggam pena sampai buku jarinya memutih.
Ketua rapat menutup map satu demi satu. “Dengan pertimbangan saksi internal dan laporan aktivitas, Anda…”
Hening panjang—seperti tarikan busur panah.
“…ditangguhkan sementara aktivitas kemahasiswaannya. Dan dilarang mengadakan pertemuan lebih dari lima orang. Efektif sejak surat ini dibacakan.” Surat meluncur di meja seperti pisau. Rangga tidak bergerak. Tidak marah. Tidak menyangkal. Justru itu—yang membuat semua orang takut. Ia hanya berkata pelan: “Setiap gerakan ruhani selalu dibacakan di ruang sidang.”
Ketua rapat mengerutkan dahi. “Itu apa maksudnya?”
Rangga menatap lurus. “Artinya… tidak ada satu surat pun yang bisa menangguhkan ruh dan menghentikan nyala semangat.” Kata ruh melukai ego ruangan.
Pertemuan bubar. Sundari mendekat perlahan, seperti seseorang mendekati altar pecah. Suaranya gemetar sangat halus: “Kau tidak apa-apa?” Rangga mengangguk tipis. “Api kecil hanya jadi terlihat saat ruangan digelapkan.” Sundari ingin berkata banyak, Jangan pergi sendirian. Jangan simpan semua ini sendiri. Aku takut kehilanganmu. Tapi ia hanya mampu mengeluarkan satu: “Kalau kau berhenti bicara… siapa yang menjaga kami?”
Rangga menatapnya. Untuk pertama kalinya, sorot matanya… letih. “Saat aku diam, itu waktunya kau bicara.” Hening tebal. Terlalu dekat untuk nyaman. Terlalu jauh untuk selamat. Sundari menunduk, air mata jatuh satu, tanpa suara. Lorong kampus sunyi. Rayyan berjalan ke sudut gelap, menerima telepon. Suara di seberang dingin, “Bagus. Kami butuh figur yang tidak emosional. Kau naik. Tapi pastikan gerakan itu padam.”
Rayyan merendahkan suara. “Biarkan aku yang kendalikan gerakan. Dengan panggung yang benar… ia bisa jadi alat besar.”
Diam. Lalu suara itu, “Pastikan pemilik risalah itu diam.”
Telepon terputus.
Rayyan menyandarkan kepala ke tembok. Matanya kosong. Ambisi dan penyesalan bertabrakan. Tapi ia biarkan ambisi menang.
Di kamar kecilnya, Rangga mengambil buku catatan. Ia menulis dengan tangan gemetar, “Aku kini tak boleh berbicara. Maka risalah harus berpindah tubuh.” Ia merobek lima halaman, melipatnya rapi, memasukkannya ke lima amplop kusam. “Jika mereka padamkan suaraku, mereka akan mendengar gema yang lain.”
Ketukan pintu. Sundari. Tanpa kata, ia menyodorkan sapu tangan. Putih, bersih, harum bunga kecil. “Untuk kau simpan. Bukan untuk menghapus air mata, tapi untuk mengingat bahwa masih ada yang menunggu.”
Rangga menatapnya lama. Terlalu lama. Kalimat naik ke tenggorokan—tertahan, Jika aku jatuh, jangan padam, yang keluar hanya, “Terima kasih.”
Sundari menelan ludah, berkata lirih : “Sampai badai selesai.”
Pintu ditutup. Detik itu… Rangga tahu, Besok, ia bukan lagi mahasiswa biasa. Ia simbol.
Dan simbol… harus siap digantung.
Lampu meja padam.
Gelap.
EPILOG
Tiga tahun berlalu. Purbalaya berubah pelan, seperti peta yang digambar ulang oleh tangan-tangan kecil. Di papan mading kampus yang dulu kaku, kini tertempel kata-kata sederhana:
“Jadilah cahaya kecil bagi seseorang.”
“Jalan sunyi bukan jalan sepi.”
“Kalau lelah… ingat Tuhan dulu.”
Tak ada tanda tangan.
Tak ada logo.
Tak ada nama.
Namun mahasiswa tahu—dengan cara yang tak bisa dijelaskan—bahwa kalimat-kalimat itu pernah muncul jauh sebelum ini. Di perpustakaan, seorang pemuda semester awal bernama Hanif menemukan lembaran usang terselip di antara buku filsafat moral. Kertasnya kuning pucat, tinta lebarnya sedikit merembes. Di bagian atas tertulis:
“Sesungguhnya sebuah cita-cita hanya akan hidup dengan iman, ikhlas, semangat, dan amal.”
Hanif membaca pelan. Ada sesuatu—sangat kecil—yang menyala di dadanya. Ia menatap sekeliling. Tak ada yang memperhatikan. Namun—entah kenapa—ia merasakan seolah seseorang pernah berdiri di tempat yang sama, bertahun-tahun lalu, membawa keresahan yang sama. Ia lipat kertas itu hati-hati, menyimpannya di saku seragam. Bara kecil… pindah tubuh.
Sundari berdiri di tepi balkon asrama putri. Angin senja mengibaskan jilbabnya pelan. Ia memegang sapu tangan putih—yang masih ia simpan, rapi, tanpa noda. Ia menghela napas panjang. Ia belajar untuk tidak menunggu manusia. Tapi ia tidak berhenti menjaga nyala. Setiap pekan, ia membina lingkar kecil di sebuah musholla kampung. Anak-anak remaja perempuan mendengarkan, menyalin, mengulang. Tidak ada sorak. Tidak ada teriakan. Tapi cahaya pelan-pelan merambat. Orang-orang berpikir ia mengajar akhlak. Padahal ia sedang mempersiapkan kelanjutan risalah. Ia tersenyum tipis.
“Semoga kau baik-baik saja, Rangga…”
Kalimat itu keluar seperti doa, bukan rindu.
Di sudut dusun jauh di lereng Cakrabuana, seorang lelaki muda duduk menulis setiap siang di beranda saung kayu tua. Rambutnya lebih pendek, sorot matanya lebih dalam. Senyumnya jarang, tapi ketika muncul, ia menyapa berdampingan dengan cahaya. Di hadapannya, Ki Raksa menyajikan teh hangat. “Aku dengar risalahmu ditemukan di mana-mana,” kata sang guru pelan.
Rangga tersenyum. “Itu bukan risalahku. Itu warisan.”
Ki Raksa menatap lurus, “Dan sekarang, warisan itu sudah bukan milikmu.”
Rangga menunduk, “Saat risalah berpindah tangan, ia tidak hilang. Ia tumbuh.” Ki Raksa mengangguk, “Dan kadang—yang menuliskan, harus mundur dari panggung.” Rangga menatap hutan—hijau, luas, tak tersentuh. “Aku tidak menyesal.” Ia mengepalkan jari, lebih pelan, lebih dewasa. “Apa pun harganya.”
Satrio menjadi konsultan etika mahasiswa. Tirta menulis kolom filsafat moral yang ramai dibaca. Rumaisha membangun perpustakaan desa. Mereka tidak pernah lagi berkumpul dalam satu lingkaran. Tapi mereka semua membawa bara masing-masing. Seperti bintang yang menyebar.
Suatu sore, surat tiba di saung Rangga. Huruf tangan halus. Jilid tipis. Isi hanya satu baris:
“Sampai badai selesai.”
“—S.”
Rangga menutup mata sebentar. Tersenyum. Tidak sakit. Tidak menunggu. Hanya… mengerti. Karena cinta di jalan ini bukan milik dua orang. Ia milik semua yang tersentuh cahaya. Malam turun—hitam pekat, tanpa bulan. Rangga duduk di beranda. Memandang lampu-lampu kampung di lembah, seperti bintang jatuh ke bumi. Ia membuka buku risalah. Halaman terakhir kosong. Ia menulis perlahan:
“Mereka boleh merantai tubuh.
Tetapi tidak bisa memadamkan ruh.
Selama pemuda memilih untuk menyala,
risalah akan hidup—
bahkan ketika pembawanya tiada.”
Titik terakhir ia letakkan tanpa gemetar. Angin malam mengusap rambutnya pelan. Ki Raksa berdiri di belakang, suaranya serak lembut, “Dan seperti itulah para penyeru kebenaran meninggalkan jejak—bukan di poster, bukan di panggung… tetapi di dada manusia.” Rangga menunduk, suaranya hampir bisikan: “Jika aku tidak dikenal… aku tenang. Selama cahaya ini terus berjalan.”
Hangat.
Di kejauhan, terdengar suara adzan isya, menggema melewati lembah, menembus kabut. Rangga berdiri. Menutup risalah. Melangkah ke tempat wudhu. Api yang dulu kecil—yang sempat ketakutan— kini menyala tanpa suara. Tidak membakar. Menerangi. Dan di seluruh Nusantara, di kelas-kelas sunyi, di teras warung, di masjid kecil, di buku-buku pinjaman…
Risalah itu berpindah.
Menyala.
Tidak ada nama penulisnya. Tidak ada foto tokohnya.
Hanya kalimat yang menembus dada:
“Menjadi manusia, sebelum menjadi massa.”
Cahaya tidak butuh panggung.
Ia hanya perlu satu dada yang rela menyala…
lalu berpindah.
Selamanya.
—TAMAT—
baca cerpen menarik satu ini Api di Lembah Seribu Pusaka
