Bayang Pakuan : Hikayat Peradaban Sunda di Pintu Dunia Lama
Sekitar tahun 400 M, ketika Eropa sedang terpuruk dalam kegelapan usai runtuhnya Kekaisaran Romawi Barat, dan para raja Goth menguasai reruntuhan istana megah di Ravenna, di belahan dunia lain, seorang raja memahatkan namanya di sebuah batu di tepi Sungai Ciaruteun. Namanya: Purnawarman. Gelarnya: Sang raja besar dari Tarumanagara.
Raja Purnawarman dari Tarumanagara bukan sekadar nama yang terukir di batu Ciaruteun. Di balik gelarnya sebagai 'Sang Raja Besar,' tersembunyi pergulatan seorang pemimpin yang ingin memberikan lebih dari sekadar kekuasaan.
Raja Purnawarman berdiri di
tepi Sungai Ciaruteun, memandang aliran air yang keruh.
"Lihatlah, patih,"
katanya kepada penasihatnya, "di musim kemarau, sungai ini seperti urat
nadi yang mengering. Rakyatku menderita dahaga."
Sang penasihat mengangguk.
"Raja, pembangunan irigasi yang engkau perintahkan adalah bukti kasih
sayangmu. Tapi ada yang berbisik, 'Raja lebih mencintai cangkul daripada
pedang.'"
Purnawarman menghela napas.
"Pedang memang penting untuk melindungi negeri, tapi cangkul juga penting
untuk menghidupi negeri. Keduanya adalah tanggung jawab seorang raja
Senja perlahan merayap di atas reruntuhan Jayasingapura, ibukota Tarumanegara yang dahulu megah. Riuh rendah kehidupan kini hanya menjadi bisikan angin yang menerpa sisa-sisa fondasi bangunan batu. Namun, di balik puing-puing kemunduran sebuah kerajaan, benih-benih kekuasaan baru mulai tumbuh di berbagai penjuru tatar Sunda.
Di timur, di antara lembah-lembah subur yang dialiri Sungai Citanduy dan Cisarayu, bangkitlah sebuah kekuatan baru yang kelak dikenal sebagai Kerajaan Galuh.
Maka
Tarumanagara menghilang bukan dalam kehancuran, melainkan dalam pelapukan alami
sejarah. Seperti akar yang membusuk perlahan, tapi menyuburkan tanah bagi tunas
baru yang segera tumbuh menggantikan.
Legenda menceritakan tentang Raja Wretikandayun, pendiri Galuh, seorang pemimpin visioner yang berhasil menyatukan berbagai kelompok masyarakat dan meletakkan dasar bagi kejayaan kerajaan ini. Ibu kota Galuh, yang beberapa kali berpindah dari Karangkamulyan hingga Kawali, menjadi pusat perdagangan dan kebudayaan, tempat bertemunya berbagai suku dan bahasa
Di sisi barat, Kerajaan Sunda tumbuh sebagai pewaris tradisi maritim Tarumanegara. Pelabuhan-pelabuhan seperti Banten dan Kalapa kembali ramai oleh lalu lalang kapal-kapal dagang dari berbagai penjuru Nusantara.
Para raja Sunda, yang mengklaim sebagai penerus sah kekuasaan Tarumanegara, terus berupaya menjaga stabilitas dan kemakmuran wilayah mereka. Meskipun catatan sejarah seringkali mencatat perselisihan dan peperangan antara Sunda dan Galuh, ada pula periode-periode persatuan yang menunjukkan bahwa di atas perbedaan, terdapat ikatan darah dan budaya yang kuat.
Benturan kepentingan antara Galuh dan Sunda tak terhindarkan.
"Citarum milik
Galuh!" teriak seorang prajurit, tombaknya terangkat tinggi.
"Bukan! Ini tanah Sunda!" jawab lawannya.
Kuda-kuda meringkik, debu beterbangan, dan dalam sekejap, pertempuran pecah.
Kisah tentang pertempuran di Padang Bubat, meskipun terjadi jauh kemudian di masa Pajajaran, seolah menjadi cerminan dari rivalitas abadi antara timur dan barat tatar Sunda.
Namun, kebijaksanaan para pemimpin seringkali mengalahkan bara permusuhan. Perkawinan politik menjadi salah satu cara untuk meredakan ketegangan dan membangun aliansi. Kisah tentang putri-putri Galuh yang dipersunting oleh para raja Sunda, atau sebaliknya, menjadi simbol harapan akan terciptanya kedamaian dan persatuan di antara kedua kerajaan. Periode-periode persatuan ini menjadi cikal bakal bagi munculnya sebuah kekuatan yang lebih besar di masa depan.
Di bawah rindangnya pohon kiara yang berusia ratusan tahun, di sebuah desa perbatasan yang menjadi titik temu para pedagang dari timur dan barat, Ariya Kemala dari Galuh duduk bersimpuh di hadapan Dewi Padma dari Sunda. Aroma menyan yang dibakar di atas pedupaan tanah liat samar-samar tercium di udara, bercampur dengan bau tanah basah setelah hujan sore."
"Kau sering melawat ke wilayah kami, Rakai Dewi Padma," sapa Ariya Kemala dengan sopan, menyunggingkan senyum tipis. Pakaiannya yang sederhana namun terbuat dari kain poleng khas Galuh menunjukkan kebangsawanannya.
"Begitulah,
Anak Lanang," jawab Dewi
Padma dengan suara lembut namun berwibawa. Kain lurik berwarna nila yang
dikenakannya terkesan anggun, dihiasi dengan pending perak di pinggangnya.
"Ikatan keluarga membawaku ke sini. Tapi tak dapat kupungkiri, aku juga tertarik mengamati bagaimana kehidupan berjalan di tanah Galuh."
"Dan apa yang kau lihat, Rakai?" tanya Ariya, matanya penuh harap.
"Kulihat
keberanian dan ketangguhan," kata Dewi Padma, mengamati sekeliling dengan tatapan bijaksana.
"Seperti halnya kami di Sunda, kalian di Galuh menjunjung tinggi kehormatan dan tradisi leluhur. Kudengar di sini, kisah tentang Ciung Wanara masih sering diceritakan di malam hari, mengingatkan tentang pentingnya persatuan dan kesetiaan."
"Benar,
Rakai," timpal
Ariya.
"Dan kami juga mendengar tentang kisah Prabu Siliwangi dari Tarumanegara yang begitu diagungkan di tanah Sunda. Kami percaya, meskipun kerajaan kita kini terpisah, akar kita tetaplah satu."
"Kau
mengucapkan kata-kata yang bijak, Anak Lanang," ujar Dewi Padma, mengangguk setuju.
"Di Sunda, kami memiliki kepercayaan kepada Sang Hyang Adi, pencipta alam semesta. Kami menghormati roh-roh leluhur dan menjaga keseimbangan dengan alam. Bagaimana dengan kepercayaan di Galuh?"
"Kami
pun demikian, Rakai," jawab
Ariya.
"Kami menyembah Dewata dan menjaga pikukuh (aturan adat) yang telah diwariskan turun-temurun. Setiap upacara seren taun menjadi pengingat akan pentingnya bersyukur atas hasil bumi dan menjaga harmoni dengan alam. Kami percaya, setiap gunung, sungai, dan pohon memiliki penunggu yang harus dihormati."
"Sungguh
menarik," kata Dewi
Padma.
"Meskipun berbeda dalam beberapa hal, kita memiliki nilai-nilai yang sama: menghormati leluhur, menjaga alam, dan menjunjung tinggi persatuan. Mungkin, suatu saat nanti, perbedaan ini akan melebur menjadi kekuatan yang lebih besar
Percakapan
antara Ariya Kemala dan Dewi Padma hanyalah satu dari sekian banyak interaksi
yang terjadi di antara masyarakat Galuh dan Sunda. Perlahan namun pasti,
kesadaran akan persatuan mulai tumbuh di kalangan para pemimpin dan rakyat.
Ikatan perkawinan antar keluarga bangsawan semakin sering terjadi, jalur perdagangan semakin ramai, dan pertukaran budaya pun tak terhindarkan. Hingga pada suatu masa, munculah seorang pemimpin yang mampu merajut kembali benang-benang persaudaraan yang sempat terurai.
Kekuatan dan kebijaksanaan dari timur dan barat bersatu, melahirkan sebuah kerajaan baru yang megah dan adidaya, yang kelak dikenal dengan nama Pajajaran, dengan ibu kotanya yang gemerlap di Pakuan.
BABAK BARU: FAJAR DI PAKUAN
Langit senja membakar cakrawala, menyinari dua negeri yang selama berabad-abad terpisah oleh batas-batas kekuasaan. Galuh di timur dan Sunda di barat. Dua kerajaan yang tumbuh dari akar yang sama, namun telah lama terbelah oleh ambisi dan perselisihan.
Angin perubahan berhembus kencang melintasi tatar Sunda. Setelah sekian lama terbagi dalam dua kekuatan besar, Galuh dan Sunda, sebuah visi persatuan yang lebih agung mulai merasuki benak para pemimpin. Di antara mereka, muncul seorang tokoh yang kharismanya bagai matahari pagi, mampu menyatukan hati dan mengumpulkan kekuatan untuk mewujudkan impian tersebut: Jayadewata.
Jayadewata, yang kelak lebih dikenal dengan gelar Sri Baduga Maharaja, kelak namanya melegenda melintas zaman di kenal sebagai Prabu Siliwangi. lahir dan dibesarkan dalam lingkungan yang kaya akan tradisi kedua kerajaan. Ayahnya berasal dari garis keturunan Sunda, sementara ibunya memiliki darah bangsawan Galuh.
Sejak muda, ia dikenal sebagai sosok yang cerdas, bijaksana, dan memiliki pemahaman mendalam tentang adat istiadat serta kekuatan spiritual kedua wilayah. Ia sering merenung di tepian Sungai Cipakancilan, sungai yang membelah wilayah Pakuan, memikirkan bagaimana menyatukan potensi besar yang terpendam di tanah leluhurnya.
Dalam satu langkah berani, ia mengajukan perjanjian penyatuan antara Galuh dan Sunda, bukan dengan pedang, tetapi dengan kebijaksanaan. Ia tahu, hanya dengan menyatukan kedua kerajaan, mereka bisa berdiri sebagai kekuatan besar yang mampu menghadapi dunia yang terus berubah.
"Kita adalah akar yang sama," ujar Prabu Siliwangi dalam pertemuan bersejarah di Lembah Cipakancilan, tempat para pemimpin Sunda dan Galuh berkumpul dalam perundingan yang menegangkan.
"Jika kita terus bertarung, kita akan tercerai berai dan binasa. Tapi jika kita bersatu, kita akan tumbuh seperti pohon raksasa yang akarnya tak bisa dicabut oleh angin perubahan."
Para bangsawan Galuh ragu. Para penasihat Sunda khawatir. Namun Siliwangi tidak datang untuk menguasai, ia datang untuk mempersatukan.
Akhirnya, melalui perkawinan politik dan aliansi diplomatik, ia berhasil menyatukan dua kekuatan besar, memadamkan dendam lama, dan mendirikan Pajajaran sebagai pusat peradaban baru. Dengan ibu kota di Pakuan, Pajajaran menjadi kerajaan yang berdiri tegak, seperti Harimau yang menjaga tanahnya.
Di bawah kepemimpinannya, Pajajaran berkembang pesat, Pelabuhan Sunda Kelapa menjadi pusat perdagangan Nusantara, menarik pedagang dari Arab, India, dan Tiongkok. Hukum dan adat Sunda diperkuat, menciptakan keseimbangan antara tradisi leluhur dan pemerintahan modern. Militer Pajajaran menjadi salah satu kekuatan terbesar di Jawa, menjaga kestabilan wilayah dari ancaman luar.
Namun, di balik kejayaan ini, Siliwangi tidak buta akan masa depan. Ia tahu bahwa perubahan sedang mendekat, bahwa kekuatan baru mulai muncul di Nusantara, kekuatan yang mungkin akan mengubah Pajajaran selamanya.
Dan di pagi yang berkabut itu, di dalam Pesanggrahan Agung, ia duduk termenung, memandang ke arah Gunung Salak, mencari jawaban di dalam kabut yang melingkari puncaknya. Di pagi yang berkabut, Gunung Salak berdiri tegak, bayangannya menghampar di atas Pakuan Pajajaran, seolah menjadi benteng bagi tanah Sunda. Matahari perlahan merangkak dari ufuk timur, cahayanya menyapu dinding-dinding kraton yang megah, saksi dari kejayaan yang tengah mencapai puncaknya.
Di dalam Pesanggrahan Agung, Prabu Siliwangi duduk di singgasananya, jubah birunya berpendar di bawah sinar matahari pagi yang masuk melalui jendela kayu jati. Di hadapannya berdiri para penasihat kerajaan, Ki Demang Santanu, Nyi Mas Subadra, dan Rakai Wirya, orang-orang bijak yang telah menyaksikan naik turunnya kekuasaan selama bertahun-tahun.
Prabu Siliwangi menghela napas panjang. Ada sesuatu yang mengusik pikirannya. Ia merasa tanah ini bergetar, bukan oleh gempa, tetapi oleh perubahan yang mendekat.
"Aku
telah membawa Pajajaran ke masa keemasannya," katanya, suaranya berat seperti arus sungai yang
mengalir di lembah.
"Pelabuhan Sunda Kelapa makmur. Rakyat hidup dengan damai. Tapi... apa kita bisa mempertahankan semua ini?"
Ki Demang
Santanu menundukkan kepala sebelum berbicara.
"Baginda, kebesaran ini bukan hanya karena kekuatan pedang atau kebijakan pemerintahan. Ini karena rakyat percaya pada kepemimpinan Baginda. Selama rakyat masih yakin, Pajajaran akan bertahan."
Tapi Nyi
Mas Subadra, yang telah lama memahami dinamika perubahan, menggelengkan kepala.
"Kita tidak bisa menutup mata, Baginda. Angin dari utara membawa sesuatu yang berbeda. Para saudagar dari Cirebon berbicara tentang ajaran baru yang menyebar dengan cepat. Kesultanan Demak semakin kuat. Jika kita tidak bersiap, kita akan terlindas oleh gelombang yang tak terbendung."
Rakai
Wirya, yang selama ini setia pada warisan Tarumanagara, mengepalkan tangan.
"Apa yang mereka bawa bukan hanya perdagangan, tetapi keyakinan yang mengubah dunia. Bagaimana jika rakyat mulai mempertanyakan adat kita? Bagaimana jika mereka berpaling dari warisan para leluhur?"
Prabu Siliwangi diam. Matanya menatap ke arah Gunung Salak, mencari jawaban di dalam kabut yang melingkari puncaknya. Gunung itu telah berdiri jauh sebelum Pajajaran lahir. Ia seperti penjaga yang tak tergoyahkan, namun juga bisu terhadap perubahan zaman.
"Gunung
itu tetap berdiri, tetapi sungai yang mengalir di bawahnya terus berubah," gumamnya, lebih kepada dirinya
sendiri.
"Apakah kerajaan ini harus tetap tegak seperti gunung, atau mengalir seperti sungai?"
Ki Demang
Santanu menatap rajanya dengan cemas.
"Baginda... apakah Baginda meragukan kejayaan Pajajaran?"
Siliwangi
menggeleng, tetapi ada kekhawatiran dalam matanya.
"Aku tidak meragukan Pajajaran. Aku meragukan apakah kita siap menghadapi dunia yang akan datang."
Dari luar, suara denting gamelan dan riuh pasar terdengar, simbol kemakmuran yang telah ia bangun. Namun, di tengah kesibukan itu, ada bisikan-bisikan perubahan, suara yang tak terlihat tetapi semakin jelas di telinganya.
"Pajajaran
akan tetap tegak... selama aku berdiri,"
akhirnya ia berkata, suaranya tegas, seperti gemuruh ombak yang menghantam pantai. Tapi dalam hatinya, ia tahu, badai sudah mulai mendekat.
Pakuan Pajajaran masih berdiri kokoh di bawah langit yang mulai berubah warna. Namun, jauh di luar tembok-tembok istana, di pelabuhan yang sibuk di pesisir barat, angin dari lautan membawa bisikan perubahan. Ombak yang selama ini menjadi sahabat Pajajaran, kini juga menjadi jalan bagi pengaruh-pengaruh baru yang tak dapat dibendung.
Para pedagang dari negeri jauh datang dengan barang berharga—sutra dari India, keramik dari Tiongkok, dan rempah-rempah dari Maluku. Tapi mereka tidak hanya membawa kekayaan; mereka membawa ide-ide baru, keyakinan yang menggema dari peradaban lain.
Di Pelabuhan Sunda Kelapa, orang-orang mulai berbicara tentang dunia yang semakin luas. Tentang kekuatan yang muncul dari tanah Demak, tentang dakwah yang menyebar dari pesisir Cirebon, tentang kapal-kapal asing yang mulai menelusuri jalur perdagangan Nusantara.
Di istana Pakuan, Prabu Siliwangi merasakan perubahan itu, seperti arus sungai yang mulai bergerak lebih deras. Pajajaran masih megah, tetapi apakah ia akan tetap tegak menghadapi angin dari lautan? Ia tahu, untuk membangun Pajajaran yang kokoh, ia harus menenun kembali benang-benang persatuan, bukan hanya dengan kekuatan pedang, tetapi juga dengan kearifan 'Tri Tangtu di Buana' yang menuntunnya untuk menjaga harmoni antara raja, resi, dan petani
Tokoh sentral kelahiran Pajajaran adalah Prabu Wastu Kancana, anak dari Prabu Linggabuana. Namun yang paling dikenang dan membesarkan Pajajaran adalah cucunya, Sri Baduga Maharaja, atau lebih dikenal sebagai Prabu Siliwangi. Ia menyatukan kembali tatar Sunda dan menjadikan Pakuan Pajajaran sebagai ibu kota kerajaan.
Hubungan antara Pajajaran dan Tarumanagara tidaklah terputus, melainkan seperti anak kepada orang tua: mereka mewarisi kebijaksanaan, sistem pemerintahan, dan akar budaya dari kerajaan terdahulu. kerajaan Sunda adalah kelanjutan politik dan kultural dari Tarumanagara dan Galuh
Di bawah kepemimpinan Sri Baduga Maharaja, Kerajaan Pajajaran mencapai puncak kemakmurannya. Kedamaian dan stabilitas yang terjaga di seluruh wilayah kerajaan mendorong peningkatan hasil bumi dan kerajinan. Kelebihan produksi ini mencari jalannya melalui jalur-jalur perdagangan yang semakin ramai, dan muara dari segala kekayaan itu adalah Pelabuhan Sunda Kelapa.
Dari
dermaga yang dulunya sederhana, kini menjelma menjadi pusat bertemunya berbagai
bangsa dan budaya, sebuah gerbang yang menghubungkan Pajajaran dengan dunia
yang lebih luas, Saat dunia sedang menyaksikan jatuh bangunnya
kerajaan-kerajaan Islam di Timur Tengah, dan kebangkitan Renaissance di Eropa,
Pajajaran berdiri sebagai penjaga warisan lama yang belum tersentuh Islam.
cerita lengkap tersedia di buku novel nya, dapat di beli di https://ebooks.gramedia.com/id/buku/bayang-pakuan-di-pintu-dunia-lama
