Belut Mang Asep

Mentari pagi belum sepenuhnya merekah, namun mang asep, seorang petani yang tinggal di ujung kampung, sudah melangkah tegap menuju sawahnya.  Embun masih membasahi dedaunan padi yang tampak menghijau dalam samar.  Perutnya memang keroncongan, tapi semangatnya mengalahkan rasa lapar.  Setiap ayunan cangkulnya adalah sebentuk doa, harapan yang ia tanam bersama bibit padi untuk masa depan keluarganya.  Sawah itu bukan sekadar ladang, melainkan urat nadi kehidupan mereka.
Setiap hari, jemarinya yang kasar dengan telaten membelai tanah, memastikan aliran air tak tersumbat, meratakan pematang agar air mengalir sempurna, membasahi setiap petak sawah dengan adil.  Ia memahami betul, air adalah nyawa bagi padi-padinya.  Suatu siang, saat cangkulnya menghantam gundukan tanah pematang, seekor belut licin menggeliat keluar.  Spontan, mang asep menangkapnya.  Di rumah, aroma gurih belut goreng langsung menyeruak, disambut senyum sumringah istri dan anak-anaknya.  "Besok ayah bawa belut lagi ya," pinta si kecil, polos.
Esoknya, dan esoknya lagi, belut seolah sengaja menyapa cangkul mang asep.  Semakin sering ia menemukan belut, semakin kuat godaan untuk memburu si licin itu.  Hasil panen masih jauh, membayang dalam ketidakpastian, sementara belut ini nyata, bisa langsung disantap, menghadirkan kebahagiaan sesaat di meja makan.  Pikiran mang asep mulai berubah.  Pematang yang dulunya ia tata dengan saksama demi kelancaran air, kini ia obrak-abrik demi mencari persembunyian belut.  Cangkulnya tak lagi bertujuan meratakan tanah, tapi menggali setiap sudut yang berpotensi menjadi sarang belut.  Kontur tanah tak lagi ia hiraukan, aliran air pun terbengkalai.
Waktu terus bergulir, tanpa terasa.  Tibalah masa panen, namun bulir padi tak kunjung menguning sempurna.  Sawahnya kering kerontang, sebagian tergenang tak merata.  Panen gagal total.  Lebih menyakitkan lagi, pematang yang acak-acakan membuat sawah itu kehilangan keseimbangannya.  Ekosistemnya rusak.  Belut-belut pun menghilang, tak lagi betah di habitat yang tak terurus.
Di tengah kehancuran itu, mang asep terduduk lesu.  Ia baru menyadari, kesenangan sesaat telah membutakannya.  Ia mengejar "belut" kenikmatan instan, melupakan "sawah" harapan utama keluarganya.  Panennya hancur, sawahnya rusak, dan belut yang dulu menggoda kini pun tak berbekas.  Ia kehilangan segalanya karena tergiur oleh sesuatu yang tampak menguntungkan di depan mata, namun menggerogoti fondasi kehidupannya perlahan-lahan.
Sebuah penyesalan yang pahit, seperti tanah sawahnya yang kini retak mengering.
Tapi ini bukan tentang mang asep dan belutnya