Harap Tenang, Sedang ada Ujian
Tarik napas dalam-dalam. Bisikan itu kembali hadir, "harap tenang... Sedang ada ujian. Dulu, kalimat itu akrab di telinga, bergema di antara bangku-bangku kayu kelas. Hari ini, semesta sendiri yang melafalkannya, menggema di relung hati.
Hidup memang ruang ujian yang luas. Soal-soalnya tertulis dalam garis nasib yang berbeda. Ada yang dadanya sesak oleh palu kehilangan yang menghantam tiba-tiba, merenggut senyum dan tawa. Ada pula yang sabar menanti seperti rembulan setia menunggu fajar, harap-harap cemas akan jawaban dari langit. Tak sedikit yang hatinya bersemi dalam taman cinta yang belum berpagar halal, menebar wangi kerinduan yang harus dipendam. Atau mungkin, ada jiwa-jiwa yang memilih kesendirian sebagai jalan sunyi menuju ketaatan, memeluk erat kesetiaan pada sang pemilik hati.
Namun, di balik ragam soal yang terbentang, ada satu benang merah yang mengikat kita: kita semua sedang duduk di bangku yang sama, mengerjakan soal ujian kehidupan.
Waktu terus berputar seperti roda pedati, membawa kita menuju garis akhir. Hanya jiwa-jiwa yang tak lekang diterpa badai, yang tetap teguh menggenggam pena keyakinan hingga usai, yang kelak akan mendengar panggilan lembut untuk "pulang" ke haribaan-nya. Maka bila hari ini dadamu terasa sesak, air matamu menetes tanpa sebab, atau malam-malammu dipenuhi tanya yang tak kunjung mendapat jawab—ingatlah, kamu tidak sedang sendiri.
Kita semua sedang duduk di ruang ujian yang sama, hanya saja dengan soal yang berbeda.
Pegang erat penamu. Jawab semampumu. Tak apa bila tak sempurna. Sebab dia tak menilai seberapa cepat kita menyelesaikan soal, tapi seberapa jujur dan sabar kita mengerjakannya.
Tarik napas sekali lagi. Tenangkan hati.
Bisikan itu belum usai, dan mungkin... Memang tak akan pernah benar-benar hilang:
"Harap tenang... Sedang ada ujian."
