Kenapa Dia Berubah ya?!

perempuan cantik berhijab menulis buku dan bertanya mengapa dia berubah

    Seseorang bisa tiba-tiba berubah bukan selalu karena ada masalah tetapi karena allah sedang membolak-balikkan hatinya.Yang hari ini mencintai bisa berbalik pergi, yang hari ini setia bisa berubah arah, maka jangan terlalu berharap pada manusia karena hati ini, hati mereka pun dalam genggaman-nya.

Hati manusia adalah daun yang mudah bergeser oleh angin, bergoyang tanpa bisa berpijak.  Tetapi cinta allah adalah akar yang tak pernah goyah, memberi kehidupan sejati.Namun, bagaimana jika perubahan itu mengajarkan kita sesuatu? Seperti yang dialami oleh seorang wanita bernama aisyah.

Aisyah pernah berkata dalam hati: "aku percaya padanya.  Aku percaya dia tidak akan pergi." teman dekatnya, farah, selalu menjadi tempat ia bersandar.  Mereka berbagi mimpi-mimpi sederhana: menertawakan masa lalu, merencanakan hari esok, hingga mendalam tentang kebahagiaan dan kesedihan yang sering saling berselang.

Namun, suatu hari, semuanya berubah.  Pesan-pesan farah mulai terdengar dingin.  Pertemuan yang dulu hangat kini penuh jeda.  Aisyah bertanya-tanya: "apa yang aku lakukan? Mengapa dia berubah?" malam-malam terasa panjang dengan kecemasan yang bergulung dalam pikirannya.  Ketika keheningan menjadi jawabannya, aisyah merasa hancur.  Dia pernah mendengar bahwa manusia mudah berubah, tetapi dia tak menyangka perubahan itu bisa menyakitkan sedemikian rupa.  Air mata menjadi temannya, dan doa adalah jembatan terakhir yang ia pegang untuk tetap bertahan.

Dalam doa, ia berkata: "Ya allah, aku tak mengerti.  Mengapa hatiku begitu bergantung pada manusia? Jika ini adalah cara-mu membimbingku kepada sesuatu yang lebih baik, maka aku berserah." Perlahan, ia mulai menyadari sesuatu: kehilangan bukanlah akhir, tapi mungkin awal dari pembelajaran tentang ketergantungan yang sejati.  Bukankah perubahan manusia adalah bukti bahwa kita butuh menggantungkan diri kepada-nya?

Beberapa waktu berlalu, dan aisyah menemukan bahwa dengan menyerahkan hatinya kepada sang pemilik hati, ia menemukan ketenangan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.  Ia menyadari bahwa hati manusia memang seperti ombak, selalu berubah.  Namun, cinta allah adalah samudra yang tak pernah surut.  Ketika akhirnya ia bertemu orang-orang baru, bukan karena mencari pengganti farah, melainkan karena hatinya kini lebih terbuka, ia merasa hidupnya kembali bermekaran.

Aisyah tersenyum dalam doanya: "terima kasih, ya allah.  Kau tunjukkan bahwa kepergian seseorang adalah cara-mu mendekatkanku pada cinta-mu yang abadi.  Dan kini, setiap kali aisyah melihat perubahan dalam hidupnya, ia tak lagi takut, tak lagi gelisah.  Ia tahu bahwa setiap lembaran baru adalah bagian dari rencana indah sang pencipta, bahkan jika awalnya terasa sulit dipahami.

Jika hati kita terlalu bergantung pada manusia ketika mereka berubah kita akan hancur, tetapi jika hati ini kita serahkan kepada-nya maka seberat apapun perubahannya kita akan tetap kuat.  Maka janganlah terlalu gelisah dengan perubahan orang lain, bisa jadi itu cara allah menyelamatkanmu dari sesuatu yang tidak baik untukmu.  Apakah kita ingin terus bergantung pada hati manusia yang mudah berubah, atau memilih bersandar pada cinta-nya yang tak pernah bergeser?

Yang perlu kita lakukan hanyalah mempercayakan hati ini kepada-nya karena hanya dia yang tidak pernah berubah dalam cinta-nya, percayalah, hanya cinta-nya yang mampu menjadi jangkar di tengah lautan hati yang berubah.  Maka jangan takut, jangan gelisah.  Perubahan manusia bukanlah akhir, tetapi tanda bahwa cinta allah adalah satu-satunya yang sejati.  Dia tidak pernah berubah, bahkan ketika hati kita rapuh.

Percayakanlah pada-nya, dan lihatlah bagaimana dia menyelamatkanmu dari sesuatu yang tidak baik untukmu.  Cinta-nya abadi, tak bertepi, seperti samudra yang menenangkan jiwa kita di setiap badai kehidupan.  Tidak ada badai yang terlalu besar untuk dilalui, jika kita bersandar pada cinta-nya yang tak pernah bertepi.