Board of Peace dan Gaza: Membaca Geopolitik Dunia Islam atas Palestina
Gaza belum berhenti berdarah, tapi para pembunuhnya sudah duduk di Board of Peace.
Di meja ber-AC itu, Palestina diperas jadi klausul, dunia Islam diuji nyalinya, dan kemerdekaan ditukar dengan stabilitas palsu bernama geopolitik.
Skenario Kompromi.
Kenapa harus berdamai dengan penjahat? Kenapa tidak melawan saja? Pertanyaan itu tak muncul di kepala, Ia menghantam dada, sesak. Bukan karena kita bodoh politik, tapi karena kita terlalu tahu apa yang sedang dikorbankan.
Di layar-layar berita, bendera negeri-negeri Muslim berdiri rapi, satu meja, satu sorot kamera. Bersanding dengan mereka yang tanknya masih hangat, yang rudalnya baru saja jatuh di kamp pengungsian, yang namanya tercatat dalam laporan PBB sebagai pelaku pembantaian warga sipil. Anak-anak Gaza belum dikafani, tapi para pembunuhnya sudah duduk di ruang ber-AC.
Marah itu wajar, muak itu manusiawi, Namun sebelum amarah berubah jadi tuduhan membabi buta, kita perlu berhenti sejenak. Bukan untuk memaafkan—melainkan untuk melihat di mana sebenarnya para pemimpin itu berdiri. Mereka tidak duduk di kursi empuk, mereka berdiri di tepi jurang.
Di hadapan mereka bukan pilihan benar dan salah, melainkan dua bencana dengan ukuran berbeda. Di satu sisi, perang terbuka melawan poros Barat di sisi lain perundingan pahit yang menggerus harga diri. Dan di antara dua pilihan itu—ada dua juta nyawa di Gaza yang tak punya paspor ke mana-mana. Meja yang mereka datangi bukan meja perdamaian, Itu meja perjudian nyawa. Setiap keputusan diambil dengan tangan berkeringat, sebagian dengan tangan berdarah.
Lihat Turki, Singa Anatolia itu mengaum, tapi kakinya terjerat rantai NATO. Sejak 1952, Turki terikat pada aliansi militer Barat. Erdoğan datang bukan untuk menyerah, tapi untuk menjadi ganjal di dalam mesin perang, ia satu-satunya negara Muslim di NATO. Jika Turki keluar dari ruangan itu, NATO tak lagi punya suara penahan. Israel akan mendapat cek kosong—politik, militer, dan moral.
Mesir bahkan lebih terjepit, Gerbang Rafah bukan simbol. Ia adalah satu-satunya pintu napas Gaza yang tak dikontrol langsung Israel. Sekali Kairo menolak duduk di meja, Israel punya alasan “keamanan” untuk menutup Rafah permanen, maka Gaza tak lagi terkepung—ia disegel. Seperti ruang gas raksasa, tapi sunyi dari kamera.
Yordania memegang kunci lain: Al-Aqsa. Kerajaan kecil itu berdiri di atas perjanjian lama sebagai penjaga status quo. Jika Amman mundur, pengelolaan Al-Aqsa bisa jatuh ke tangan kelompok ekstremis Yahudi yang terang-terangan menyerukan penghancurannya, itu bukan spekulasi, Itu sudah tertulis dalam manifesto mereka.
Saudi, Qatar, UEA bergerak di medan yang berbeda: ekonomi. Gaza rata dengan tanah, Lebih dari 60% bangunan rusak atau hancur, rumah sakit, sekolah, jaringan air—semuanya runtuh. Barat bicara bantuan, tapi datang dengan syarat, kontrak, dan agenda. Negara Teluk memilih cara lain, uang sebagai pengaruh. Lebih baik mereka mengontrol aliran dana rekonstruksi daripada membiarkan Gaza dijajah ulang lewat proyek “kemanusiaan” Barat.
Pakistan hadir tanpa banyak bicara. Negara itu memiliki lebih dari 170 hulu ledak nuklir—satu-satunya di dunia Islam, Ia tak mengancam. Tak perlu. Keberadaannya saja sudah pesan jangan dorong konflik ini ke jurang yang lebih dalam, kami bisa menekan tombol bahaya.
Dan Indonesia, negeri tanpa nuklir, tanpa pangkalan militer global, tanpa perbatasan dengan Palestina juga bukan negara yang punya uang banyak, Tapi Indonesia datang membawa sesuatu yang tak dimiliki yang lain, ia datang membawa jiwa dan nurani, mewakili ratusan juta hati yang paling mencintai Palestina, ini adalah legitimasi moral. Suara dari negeri berpenduduk Muslim terbesar di dunia. Tanpa Indonesia, pertemuan ini akan tampak seperti rapat pemilik modal. Indonesia memastikan satu kata tetap hidup dalam draf: kemerdekaan. Bukan sekadar stabilitas, bukan sekadar pembangunan.
Lalu pertanyaan itu kembali, lebih keras: Bolehkah duduk dan berkompromi bersama musuh?
Islam tak mengajarkan keberanian bunuh diri. Prinsip dar’ul mafasid muqaddam ‘ala jalbil mashalih bukan teori kelas, ia panduan hidup. Mencegah kehancuran total lebih utama daripada mengejar kemenangan simbolik. Masuk ke kandang singa lapar ini bukan untuk mencari keuntungan, tapi untuk mencegah bencana yang tak bisa ditarik ulang: pengusiran massal warga Gaza dan penghapusan Palestina dari peta politik.
Syekh Yusuf Al-Qaradawi pernah berkata: jika dua pilihan sama-sama pahit, syariat memerintahkan memilih yang paling ringan bahayanya. Jalan yang mungkin tampak hina di mata manusia, tapi menyelamatkan jutaan nyawa. Dahulu, Nabi Yusuf ‘alaihissalam masuk ke pemerintahan raja yang zalim. Ia tak menjual iman, Ia menyelamatkan rakyat dari kelaparan.
Politik tingkat tinggi memang kotor dan licik, ia bukan lumpur sawah—tapi oli mesin perang. Kita tidak bisa mengukur keputusan para pemimpin dengan mistar emosi kita yang pendek, mereka sedang bermain catur diatas ranjau, salah langkah sedikit bukan hanya jabatan yang hilang tapi nyawa saudara kita di Palestina yang melayang, mungkin langkah kompromis adalah yang terbaik. Seperti cara terbaik menolong orang yang terkunci dalam rumah yang terbakar adalah dengan ikut masuk kedalam api bukan berteriak teriak dari seberang jalan.
Skenario Melawan
Namun sekarang, mari kita jujur—tanpa basa-basi. Bagaimana jika delapan negara Islam tidak berunding? Bayangkan Indonesia, Pakistan, Turki, Mesir, Saudi, Qatar, Yordania, UEA berdiri dalam satu poros dengan semangat wihdah dan ruhul jihad, memilih menjadi superpower baru yang memegang leher dunia?
Pakistan cukup mengumumkan satu doktrin pertahanan, dunia langsung berhitung ulang. Di garis depan militer, Pakistan sebagai satu-satunya pemilik pedang nuklir di dunia islam dengan lebih dari 170 hulu ledak, Pakistan cukup mengeluarkan 1 doktrin "serangan terhadap Gaza adalah serangan terhadap Islamabad" detik itu juga konsep Ultimate Deterrence bekerja, Israel tidak akan berani menggunakan opsi nuklirnya (samson Option) karena Pakistan siap menekan tombol balasan
Turki menguasai langit, dengan teknologi drone tempur Bayraktar nya mampu menciptakan langit besi yang menjenuhkan sistem Iron Dome, sementara Mesir dan Yordania membuka gerbang perbatasan seluas-luasnya, membiarkan logistik dan para pejuang membanjiri medan laga.
Saudi memutar keran minyak—yang masih menyuplai sekitar 30% ekspor global—ke posisi OFF, mengulang sejarah Raja Faizal 1973. Mesin perang Amerika akan mogok, pabrik senjata eropa akan mati, inflasi global akan meruntuhkan ekonomi barat dalam hitungan minggu.
Lalu Mesir menutup Terusan Suez—jalur 12% perdagangan dunia—ditutup dan Indonesia sang raksasa maritim memblokade Selat Malaka—urat nadi Asia—bagai kapal-kapal pro Zionis, dua arteri perdagangan dunia putus seketika.
Di dunia informasi Qatar dengan Al Jazeera nya memenangkan perang narasi, sementara UEA membekukan aset keuangan musuh du hub Dubai. Tanpa satu peluru pun ditembakkan, ekonomi global gemetar, sepertinya semua itu mungkin, Alatnya ada, uangnya ada, senjatanya ada, orangnya ada.
Lalu muncul pertanyaan kenapa tidak damai saja? Bukankah damai itu indah.
Mari lihat catatan sejarah yang di tulis dengan tinda hitam pengkhiatan kaum Yahudi. Bani Qaynuqa, Bani Nadir, Bani Quraizah di Madinah semuanya mengikat janji damai dengan Rasulullah saw tapi semuanya berkhianat dan menusuk dari belakang. Lihat juga catatan perjanjian oslo, Camp David, Wye River adakah yang di taati?
Syeikh Ahmad Yasin sang singa Palestina berpesan dengan tajam "Mereka ingin kita meletakkan senjata dan menerima remah-remah roti sebagai ganti tanah air. Perdamaian bagi mereka adalah kesempatan untuk bernapas sebelum menerkam kembali"
Berdamai saat musuh masih menduduki tanah kita dan kita dalam posisi lemah bukanlah perdamaian tapi menyerah. Salahuddin al ayubi tidak berunding saat tentara salib masih kuat mencengkeram yerusalem, beliau berunding setelah mematahkan punggung musuh di perang Hittin. Itulah izzah.
Tetapi, Jika kemenangan itu dekat lalu kenapa 8 negara islam ini tidak memilih melawan? Tetapi malah memilih duduk menunduk di meja perundingan? Mungkin jawabannya adalah AL WAHN
Saudi dan teluk takut tahtanya di goyang Amerika, Mesir dan Yordania takut ekonominya dibunuh IMF, Turki dan Pakistan takut sanki militer NATO Indonesia takut kehilangan investasi asing
Kita datang ke meja perundingan seperti domba yang berharap belas kasihan serigala—lupa bahwa kita kawanan banteng. Jika bersatu, serigala tak akan berani mendekat. Inilah tragedi terbesar umat ini: bukan kurang kekuatan, melainkan kurang keberanian.
Selama kita memilih aman dalam kehinaan, Palestina tidak akan pernah merdeka dengan tinta di atas kertas yang ditandatangani di Washington.
---
Di tulis ulang dengan garis besar diambil dari tulisan @sanjuun_
Gambar ai generated.
