Melepas Lelah Batin

dengan berserah pada ketetapan-Nya.

Sering merasa lelah meski sudah kerja keras? Mungkin kita sedang lelah mendikte takdir. Simak renungan tentang cara melepas ego dan menemukan kedamaian dengan berserah pada ketetapan-Nya.

​Di rentang usia kita saat ini, hidup sering kali terasa seperti perlombaan yang tak kunjung usai. Ada tuntutan peran, target yang harus dicapai, hingga ambisi yang belum juga terwujud. Kita bekerja keras, beribadah dengan tekun, namun terkadang di penghujung hari yang tertinggal hanyalah rasa lelah yang sesak.

​Pernahkah kita bertanya-tanya, jangan-jangan lelah itu muncul bukan karena beban yang berat, melainkan karena cara kita membawa beban tersebut?


​Rantai yang Kita Pasang Sendiri

Kadang tanpa sadar, kita sedang memenjara hati kita sendiri. Kita terjebak pada pemikiran bahwa "Aku adalah penentu nasibku". Kita meletakkan seluruh ketergantungan pada seberapa keras kita berusaha dan seberapa banyak amal yang kita setor. Di titik inilah, ego mulai mengambil alih.

​Kita menjadi "bodoh" secara batin ketika kita mulai mendikte Tuhan. Kita ingin sesuatu terjadi di waktu yang kita mau, bukan di waktu yang Dia tentukan. Kita merasa paling tahu mana yang baik, padahal pandangan kita hanya sebatas ujung hidung, sementara Sang Maha Pengatur melihat semesta dalam kesatuan yang sempurna.

​Nafsu untuk mengendalikan segalanya inilah yang sebenarnya menjadi rantai di kaki kita. Ia membuat langkah kita menuju-Nya menjadi berat, penuh keraguan, dan mudah goyah saat kenyataan tak sesuai harapan.

Sebenarnya, ketenangan itu sederhana: berhentilah menjadi "pengatur". Bukan berarti kita berhenti berusaha atau menjadi malas, tapi kita mulai memisahkan antara ikhtiar tangan dan ikatan hati.

​Tangan kita boleh sibuk bekerja, kaki kita boleh lelah melangkah, tapi biarkan hati kita duduk tenang dalam singgasana kepasrahan. Kita perlu sadar bahwa Tuhan tidak pernah sedetik pun alpa mengurusi makhluk-Nya. Jika Dia mampu menggerakkan planet-planet di orbitnya tanpa tabrakan, mana mungkin Dia tidak mampu mengurus kerumitan hidup kita?

​Orang yang benar-benar mengenal Tuhannya tidak akan melihat-Nya secara sepihak. Dia tahu bahwa Tuhan yang Maha Pengampun adalah Tuhan yang sama yang Maha Adil. Dia yang memberikan kehidupan adalah Dia yang sama yang akan mengambilnya kembali. Saat kita bisa melihat semua ketetapan-Nya sebagai satu kesatuan hikmah, maka tak ada lagi alasan bagi hati untuk merengek atau protes pada takdir.


​Sebuah Renungan

Mari kita lihat lagi langkah kaki kita hari ini. Apakah kita sedang berjalan dengan tenang karena yakin ada Yang Menuntun, atau kita sedang berlari tunggang-langgang karena takut esok tak ada nasi di meja?

​Ketenangan sejati hanya akan mampir saat kita berani melepaskan pagar-pagar ego yang menutup mata hati. Ingatlah, perjalanan ini bukan soal seberapa cepat kita sampai, tapi seberapa "hadir" hati kita bersama-Nya di sepanjang jalan.

​Berimanlah pada takdir sehebat kita beriman pada usaha. Sebab, hanya saat hati berhenti mendikte, kedamaian yang sesungguhnya akan mulai menyapa.

[Patriariza.id]