Kursi Kosong Di Meja Rapat

Foto Patria Riza dengan Kursi Kosong di Meja Rapat

Jam di dinding menunjukkan pukul setengah lima sore. AC di ruangan itu berdengung pelan, satu-satunya suara yang konsisten sejak rapat dimulai dua jam lalu. Beberapa gelas kopi sudah dingin, permukaannya berminyak, tak tersentuh sejak dituang. Slide yang sama masih menyala di layar, sudah lama berhenti berganti karena tidak ada lagi yang benar-benar ditanggapi. Di sudut meja, seseorang menggeser kursinya sedikit—pelan-pelan, supaya tidak berbunyi—lalu mengurungkan niat untuk bicara. Tangannya sempat terangkat setengah, lalu turun lagi, kembali melipat di atas notes yang masih kosong.


Pernah tidak kita berada dalam ruangan seperti itu? Secara teknis sedang rapat. Tapi rasanya seperti sedang duduk mendengarkan monolog yang berlangsung sangat lama, sementara semua orang lain hanya menjadi penonton yang sopan.


Ada satu fenomena yang mungkin pernah kita temui di organisasi kita, semacam "penyakit halus" yang bisa hinggap pada siapa saja yang sudah lama berada di satu tempat—dan jujur saja, suatu hari nanti, bisa jadi hinggap juga pada kita. Saya menyebutnya jebakan Merasa Paling Hafal Jalan. Karena sudah lama berkendara di rute yang sama, karena merasa sudah tahu setiap lubang dan tikungannya, lama-lama jendela ditutup dan GPS dimatikan. Bukan karena sombong di awal. Tapi karena terlalu yakin bahwa hafalan lama itu masih berlaku untuk jalan yang, tanpa disadari, sudah berubah.


Awalnya, sosok seperti ini justru dikagumi. Dialah yang paling tahu sejarah organisasi, paling paham nilai-nilai awal yang dulu diperjuangkan, dan bicaranya selalu membawa semangat yang menular. Tapi ada titik di mana semangat itu, tanpa disadari pemiliknya sendiri, mengeras jadi jeruji. Ilmu dan pengalaman yang tadinya menerangi, pelan-pelan berubah jadi lampu sorot yang hanya menghadap ke satu arah—ke luar, ke setiap ide baru yang datang, dicurigai sebagai ancaman terhadap sesuatu yang sudah susah payah dijaga.


Kalimat-kalimat semacam ini mungkin pernah kita dengar. Entah dari orang lain. Atau, kalau kita cukup jujur pada diri sendiri, jangan-jangan pernah juga meluncur dari mulut kita.


"Kamu belum ngerasain apa yang saya rasain dulu."


"Dulu, cara kita nggak begini."


Kalimat-kalimat yang terdengar bijak dan penuh pengalaman, padahal kalau ditelusuri lebih dalam, sering kali hanya cara halus untuk berkata: cukup dengarkan, jangan dibantah.


Kita punya teladan yang menariknya justru datang dari manusia paling mulia sepanjang sejarah. Menjelang Perang Khandaq, ketika Madinah terancam dikepung pasukan gabungan Quraisy dan sekutu-sekutunya, Rasulullah SAW—yang menerima wahyu langsung dari langit, yang secara kedudukan adalah pemimpin umat—tetap membuka ruang musyawarah. Dan usul yang akhirnya dipakai untuk menyelamatkan kota itu datang dari Salman Al-Farisi, seorang sahabat "pendatang baru" dari Persia, dengan strategi yang asing bagi kebiasaan perang orang Arab kala itu, menggali parit di sisi-sisi Madinah yang terbuka terhadap serangan. 


Beliau tidak menolaknya hanya karena idenya datang dari luar kebiasaan, atau dari seseorang yang berasal dari tempat yang jauh dan membawa pengalaman yang berbeda dari keumuman dan kebiasaan setempat. Bagi Rasulullah, ilmu dan pengalaman adalah jembatan untuk mendengar lebih banyak. Bukan tembok untuk menutup telinga.


Begitulah caranya sebuah kota diselamatkan bukan oleh satu suara yang paling keras, tapi oleh ruang yang cukup lapang untuk menampung suara yang berbeda.


Bandingkan dengan ruangan rapat yang tadi. Satu per satu, orang-orang yang sebenarnya punya potensi besar mulai memilih diam. Bukan karena mereka kehabisan ide. Tapi karena mereka sudah hafal apa yang akan terjadi setiap kali mencoba memberi warna baru: catnya akan dihapus lagi, dianggap belum cukup memahami "bagaimana seharusnya".


Sampai suatu hari, salah satu dari mereka tidak datang lagi.


Bukan karena dipecat. Bukan karena resign dengan surat resmi dan basa-basi perpisahan. Dia hanya berhenti membalas pesan grup, berhenti mengangkat tangan, lalu perlahan namanya jadi jarang disebut dalam rapat—sampai akhirnya benar-benar tidak disebut sama sekali. Kursinya masih ada di ruangan itu. Tapi kosong. Dan yang lebih menyedihkan, butuh waktu cukup lama sebelum ada yang benar-benar menyadari bahwa kursi itu sudah lama tidak terisi.


Organisasi, sepengalaman saya, jarang benar-benar rusak karena serangan dari luar. Ia rusak pelan-pelan, dari dalam, ketika satu-dua orang di dalamnya—siapa pun itu, bisa senior, bisa juga kita sendiri di masa depan—diam-diam mulai merasa bahwa dirinyalah organisasi itu sendiri. Ia merasa sedang menyelamatkan kapal dari ombak. Padahal tangannya sendiri yang sedang melubangi lantainya, satu paku keras kepala demi satu paku keras kepala.


Ilmu dan pengalaman yang berkah itu sebenarnya punya tanda yang sederhana: ia membuat orang-orang di sekitarnya tumbuh, merasa dihargai, dan berani berpikir berbeda tanpa takut. Kalau kehadiran kita—siapapun kita, di posisi apapun—justru membuat orang lain memilih diam atau merasa kecil, mungkin ini saatnya bertanya jujur pada diri sendiri: yang sedang saya perjuangkan ini benar-benar nilai organisasi, atau sebenarnya ego saya sendiri yang sedang lapar pengakuan?


Organisasi selalu lebih besar dari sekadar nama siapa pun di dalamnya, sebesar apa pun jasa yang pernah diberikan. Dan kedewasaan yang sesungguhnya bukan soal siapa yang paling lama bertahan atau paling hafal jalan. Kedewasaan adalah keberanian untuk berhenti sejenak, menoleh ke belakang, dan mengakui bahwa ide yang tadi kita tolak—yang datang dari orang yang paling muda, paling baru, atau paling sering dianggap sebelah mata—mungkin justru jawaban yang selama ini kita cari-cari sendiri.


Jadi mungkin, sebelum rapat berikutnya dimulai, ada baiknya kita menengok dulu ke kursi-kursi di sekitar kita. Yang mana yang masih terisi karena orangnya masih percaya bahwa suaranya didengar. Dan yang mana yang sebenarnya sudah lama kosong, jauh sebelum orangnya benar-benar pergi.


Organisasi jarang mati oleh beratnya tantangan dari luar. Ia mati pelan-pelan, satu kursi kosong demi satu kursi kosong, oleh orang-orang yang berhenti didengar—lalu memilih menepi, dengan alasan sesederhana lelah.


[Patriariza.id]