Sebab Ini Bukan Tentang Monyet : Cerpen Ketulusan Mang Asep
Batu Di Jalan Kerajaan
Sore merayap turun, membawa bias jingga yang berbaur dengan lumpur kering di tepi sawah. Mang Asep masih bergeming. Tatapannya tertanam pada petak-petak tanah yang retak dan batang padi yang membusuk—sisa-sisa kegagalan masa lalu saat ia melupakan pokok padi demi memburu belut. Perutnya berbunyi. Ia teringat periuk di rumah yang harus tetap mengepul malam ini. Dengan bakul kosong terjinjing dan pundak melorot, ia melangkah pulang menyusuri jalan setapak kerajaan.
Di kelokan buntu, sebuah batu hitam sebesar kerbau duduk angkuh di tengah jalan. Batuan itu sengaja ditaruh di sana atas titah seorang lelaki bersahaja yang mengintip dari balik semak subur—Sang Raja yang sedang menyamar, menguliti tabiat rakyatnya sendiri lewat sebongkah rintangan.
Tak lama, derit roda kereta terdengar. Seorang pedagang kaya melintas, jubah sutranya berkilat, jemarinya penuh cincin emas. Begitu langkahnya terantuk batu, wajahnya memerah bagai kepiting rebus. Ia memukul batu itu dengan tongkatnya, mengumpat kasar. "Upeti ditarik tiap bulan, tapi jalanan dibiarkan keparat seperti ini! Pemerintah macam apa?!" Gerutunya tak putus-putus saat ia terpaksa memutar kereta, membuang tenaga, bersungut-sungut hingga bayangnya hilang di tikungan.
Lalu datanglah seorang pria bertopi tinggi, berkain ningrat dengan dagu mendongak. Langkahnya terhenti. Alih-alih membungkuk memeriksa, ia justru berkacak pinggang, menendang batu itu dengan selop mahalnya hingga ia sendiri meringis kesakitan. "Siapa bajingan yang berani menaruh ini? Mengganggu hajat pejabat!" teriaknya pongah. "Akan kucari dan kuhukum berat orangnya!" Pria itu melipir ke trotoar sempit, mengibaskan jubahnya dengan gusar, lalu melenggang pergi tanpa menoleh lagi.
Senja kian pekat ketika seorang pemuda kurus, klimis, berkacamata dengan ransel sarat buku berhenti di depan batu. Ia melipat tangan di dada, mengamati batu dari berbagai sudut bagai seorang ahli purbakala. Kepalanya menggeleng-geleng penuh keprihatinan. Mulutnya mulai meracau tajam, "Inilah bukti nyata kerusakan sistemik. Pemerintah korup, apatis, hanya memperkaya diri! Runtuhnya infrastruktur moral tecermin dari batu ini!" Ia mencatat sesuatu di buku kecilnya, menghela napas puitis, lalu melangkah anggun melewati trotoar tanpa sedetik pun berniat menyentuh batu tersebut.
Hampir bersamaan, langkah tegap seorang prajurit bergema. Pedang di pinggangnya berdentang. Demi melihat jalannya terhalang, tangannya langsung menghunus baja berkilat. Sambil memukulkan punggung pedang ke permukaan batu hingga memercikkan api, ia berteriak, "Aku telah berdarah-darah di medan laga demi kerajaan ini! Mengapa rintangan picisan ini berani menghalangi jalanku ke markas?!" Dengan sekali hentakan, ia melompati batu itu penuh keangkuhan, meninggalkan debu yang mengepul.
Matahari hampir sepenuhnya terbenam saat bayangan Mang Asep tiba di sana. Tubuhnya ringkih, gurat wajahnya sedalam parit sawah yang kering. Ia lelah, teramat lelah. Namun, matanya terpaku pada batu besar itu. Ia menatap ke depan; jalanan mulai gelap. Ia menggumamkan basmalah pelan, kebiasaan lama yang selalu ia ucapkan sebelum mengangkat apa pun yang lebih berat dari bakulnya sendiri.
Bagaimana jika ada kereta bayi yang terguling? Bagaimana jika pencari kayu malam nanti tersandung dan patah tulang? Tanpa sepatah kata umpatan, Mang Asep meletakkan bakulnya. Ia mendekati batu itu, menempelkan dadanya yang kurus pada permukaan batu yang mulai dingin, lalu mendorong. Napasnya memburu. Otot-otot lengannya menegang hingga urat-uratnya mencuat. Batu itu bergeming. Mang Asep menyeka keringat yang bercampur debu di dahinya. "Sedikit lagi," bisiknya pada diri sendiri. Mengingat malam yang kian pekat, ia memantapkan pijakan kaki telanjangnya di atas tanah, mengerahkan sisa seluruh daya yang ia miliki. Dengan satu tumpuan batin yang kuat, batu itu akhirnya berguling ke tepi jalan, menyisakan ceruk tanah yang kosong.
Mang Asep ambruk di rerumputan, dadanya naik turun menghirup udara malam. Namun, di dalam bekas reruntuhan batu itu, matanya menangkap sesuatu—sebuah bungkusan kain beludru.
Dengan jemari bergetar hebat karena sisa kelelahan, ia membuka ikatan kain tersebut. Kilau kuning keemasan memantul di bola matanya yang basah. Puluhan koin emas murni telentang di sana, mengapit secarik perkamen bertinta emas:
"Kepada tangan yang meringankan beban sesama tanpa meminta upah, koin-koin ini adalah hakmu. Terima kasih telah menjaga jalan kerajaan ini tetap lapang."
— Rajamu.
Air mata Mang Asep luruh, membasahi perkamen di genggamannya. Ia bersujud di atas tanah basah, bahunya bergetar, mulutnya mengucap syukur berulang-ulang tanpa suara. Ia membayangkan wajah istrinya nanti—bagaimana perempuan itu akan diam dulu sebelum akhirnya menangis, begitu melihat isi bungkusan kain beludru itu.
Sudahkah kita menunduk untuk memindahkan rintangan kita sendiri, atau baru sekadar pandai mengeluhkannya atau jangan jangan kita adalah batu penghalang bagi orang lain?
Kebun Pisang Mang Asep
Jalanan itu kembali sepi. Bekas ceruk tempat batu itu dulu berdiri masih basah oleh keringat seorang lelaki kurus, satu-satunya jejak yang tak dibawa pergi oleh amarah siapa pun.
Koin emas itu menjelma menjadi babak baru. Di meja makan yang beralas tikar pandan, Mang Asep menumpahkan isi bungkusan beludru itu di hadapan istrinya. Perempuan itu diam lama, menghitung koin satu per satu dengan jari gemetar, lalu berbisik, "Jangan disimpan di bawah bantal, Kang. Ini rezeki yang harus jalan." Mendengar kabar bahwa istana membutuhkan pasokan pangan besar-besaran untuk program makan gratis anak-anak telantar, Mang Asep menanam modalnya pada tanah di tepi hutan. Ia membuka kebun pisang.
Kali ini ia tak lagi tergoda oleh riak kecil seperti belut di sawah dahulu. Fokusnya lurus. Ia mencangkul dari subuh hingga petang, merawat setiap tunas pisang seolah merawat bayinya sendiri. Jerih payahnya terbayar tunai. Dalam beberapa musim, pelepah-pelepah hijau subur melambai ditiup angin, memikul tandan-tandan pisang yang gemuk dan menguning sempurna. Ekonomi keluarganya tegak berdiri.
Hingga suatu pagi, seekor monyet kurus keluar dari rimbun hutan. Dengan gerak-gerik takut, hewan itu memetik sebutir pisang. Mang Asep yang melihatnya dari gubuk hanya tersenyum tipis. "Mungkin kau lapar, Makhluk Allah. Anggap saja ini sedekah," gumamnya, membiarkan monyet itu kembali ke hutan dengan perut kenyang.
Besoknya, monyet yang sama datang lagi. Mang Asep kembali berpaling, mengingat bagaimana rasanya terpukul oleh kelaparan saat sawahnya rusak dahulu. Rasa ibanya mengalahkan logika kebunnya.
Minggu berikutnya, Mang Asep terbangun oleh suara berisik sebelum subuh. Ia keluar gubuk dengan obor di tangan—dan mendapati bukan satu, tapi belasan pasang mata memantul di kegelapan kebun. Monyet-monyet itu bergelantungan di batang-batang muda, merobek pelepah yang belum genap sebulan ditanam. Satu tandan yang seharusnya matang dua musim lagi jatuh terinjak, hancur di tanah becek.
Ia menggertak, melempar batu kecil, memukul kentongan. Kawanan itu berlarian sesaat, lalu kembali begitu obornya padam. Malam-malam berikutnya, Mang Asep memasang pagar bambu setinggi dada, mengikat kaleng bekas di setiap sudut, membuat boneka sawah dari baju lusuhnya sendiri. Untuk sementara itu berhasil—sampai suatu subuh ia menemukan pagar itu roboh, kaleng-kalengnya berserakan tak berbunyi, dan tandan pisang kesayangannya, yang diam-diam ia beri nama "si Gendut", tergeletak setengah dimakan di lumpur.
Ia berjongkok lama di sana, menatap bekas gigitan itu tanpa berkata apa-apa.
Suatu pagi, seekor monyet menggigit jarinya saat berebut golok kecil yang biasa ia pakai membelah batang pisang. Rasa sakit itu menjalar sampai ke bahu. Tanpa pikir, tangannya yang lain mengayun.
Golok itu hanya menyerempet. Tapi cukup. Monyet kecil di hadapannya terjungkal, mengejang sebentar di antara rerumputan, lalu diam.
Mang Asep berdiri mematung. Kawanan yang lain menjerit dari pucuk pohon, memandangnya seperti memandang algojo. Ia menunggu dirinya merasa menang. Tidak datang. Yang datang justru bunyi jantungnya sendiri, berdegup keras di telinga, dan tangannya yang masih menggenggam golok itu—gemetar, bukan karena lelah.
Ia berjongkok perlahan. Diamatinya monyet kecil itu dari dekat: tubuhnya tak lebih besar dari dua kepalan tangan, bulunya kusam, perutnya cekung karena lapar—lapar yang sama yang pernah membuat Mang Asep sendiri memberi sedekah pertama kalinya, dulu, di kebun ini juga. Ia teringat wajahnya sendiri saat sawahnya dulu gagal panen, saat perutnya yang berbunyi memaksanya pulang membawa bakul kosong.
Golok itu jatuh dari tangannya sendiri, tanpa ia sadari telah melepaskannya.
Ia tidak menangis. Ia hanya duduk di situ, di antara lumpur dan bangkai kecil itu, sampai matahari naik penuh dan bayangannya sendiri memendek di tanah.
Bukankah kita justru paling mengenal diri sendiri bukan saat berbuat baik, melainkan saat menyadari seberapa jauh kita bisa khilaf?
Malam itu ia tidak makan malam bersama keluarganya. Ia duduk di depan gubuk, menatap kebun yang gelap, mengulang satu pertanyaan yang tak pernah selesai ia jawab: apakah yang ia jaga sekarang kebunnya, atau dirinya sendiri? Istrinya keluar, duduk di sampingnya tanpa bertanya, meletakkan tangan di punggungnya. Lama tak ada suara, hanya jangkrik dan angin di pelepah pisang.
"Akang capek, Bu," katanya akhirnya, suaranya nyaris tak terdengar. "Bukan capek badan."
Istrinya tidak menjawab. Ia hanya menggenggam tangan suaminya yang masih berbau tanah dan darah tipis dari cakaran hari itu.
Esok paginya, Mang Asep mengemas pakaian mereka, tanpa sekali pun menoleh ke arah kebun yang ia bangun dari nol.
Kabar perginya sang petani tekun menyebar cepat dari mulut ke mulut. Para petani di kampung tetangga menatap kebun kosong itu dengan ngeri dan iba. Tempat itu segera dikutuk oleh desas-desus sebagai "Kebun Monyet", sebidang tanah mati yang dikuasai kawanan penjarah.
Sepeninggal Mang Asep, riuh kemenangan pecah di tepi hutan. Kawanan monyet bersukaria, melompat dari dahan ke dahan, berpesta pora di atas tumpukan pisang yang tersisa. Tidak ada lagi batu yang menghalangi, tidak ada lagi manusia ringkih yang mengacungkan kayu. Mereka makan hingga muntah, membuang buah yang setengah digigit, dan menari di atas kejayaan mereka sendiri.
Satu minggu berlalu. Dua minggu berlalu. Pesta itu perlahan mereda seiring dengan habisnya tandan pisang terakhir di pohon. Tanpa tangan Mang Asep yang menyiangi gulma, menyiram akar, dan memberi pupuk, pohon-pohon pisang yang tersisa meranggas. Batangnya membusuk dikerumuni ulat, daunnya menguning lalu mati. Kebun itu dalam sekejap berubah menjadi belantara semak berduri yang gersang.
Kelaparan hebat kembali mencekik leher kawanan monyet. Saat perut mereka melilit, mereka kembali ke tengah kebun, menatap gubuk kosong yang jendelanya telah miring pencong. Salah satu dari mereka—yang dulu paling sering mencuri tandan matang—duduk lama di ceruk bekas tempat Mang Asep biasa mengasah golok, mengendus sisa bau tembakau yang masih menempel di dinding bambu yang lapuk.
Tak ada lagi tangan yang menyiangi gulma. Tak ada lagi orang yang bisa dimaki.
Kini, orang itu telah pergi dan takkan pernah kembali. Monyet-monyet itu mencoba mendatangi perkebunan lain di seberang bukit, namun para petani di sana telah mendengar reputasi buruk mereka. Pagar-pagar besi berduri telah dipasang, senapan-senapan angin telah diisi peluru, dan racun-racun telah ditebar. Tak ada lagi tempat bagi mereka.
Batu di jalan kerajaan dan kebun pisang di tepi hutan, pada akhirnya, adalah rintangan yang sama—sesuatu yang lebih mudah dimaki daripada dipindahkan, lebih mudah dinikmati daripada dijaga. Yang membedakan Mang Asep bukan karena ia tak pernah lelah, atau tak pernah salah ayun golok. Melainkan karena ia selalu kembali menunduk: mengucap basmalah sebelum memikul beban orang lain, dan diam tertunduk lama setelah tangannya sendiri berbuat khilaf.
Dan barangkali, kita pun sedang menjadi salah satu dari keduanya—tangan yang menjaga, atau yang baru menyesal setelah semuanya pergi. Lalu, yang manakah kita, sebelum semuanya benar-benar pergi?
Dan kisah ini, sejak awal, bukan tentang monyet.
Kisah Inspiratif ini terus berlanjut dalam serial cerpen lainnya.
.
